Selasa, 23 Desember 2014

Salah Satu dari Alasanku

Sebenarnya yang ingin saya bagi di blog ini adalah hal yang senang-senang saja. Namun pada kenyataannya dalam perjalanan menuju kebahagiaan sekalipun kita masih menemui hal-hal yang membuat kita kurang nyaman. Menikah adalah tujuan yang kita niatkan sebagai ibadah, oleh karena itu seorang teman bernasihat, karena namanya ibadah pasti akan ada setan yang suka mengganggu niat baik kita itu. Jadi kencangkanlah doa dan tambahlah waktu untuk shalat di sepertiga malam terakhir. Hanya, ternyata setan dalam diri saya inilah yang seringkali membuat rasa malas ini menjengkelkan juga. Saya akui saya masih lemah.

Di sisi lain, hubungan saya dengan Kangmas sih insyaallah baik-baik saja. Namun kami masih sering terlibat berantem-berantem kecil. Ketika pembicaraan agak mulai berat maka mulailah timbul perdebatan. Mungkin saja saya banyak kekurangannya, mungkin saya yang kurang memenuhi kriteria cara berpikir yang baik, mungkin saya belum memenuhi standar kelayakan calon istri yang dia tetapkan. Saya dengan senang hati belajar, dengan senang hati mengikuti apa yang menurutnya baik. Saya menghormatinya karena saya percaya dia. Tetapi terkadang saya juga tidak tahu mengapa saya selalu kurang tepat.

Saya mengenalnya lama, meski saya tahu itu tak menjamin apa-apa. Saya menghormati dan menyayanginya. Dan saya percaya bahwa dia adalah laki-laki yang terbaik untuk saya dari Allah. Saya meyakini bahwa hidup yang berat nanti, ujian-ujian hidup yang saya alami nanti, serta di antara keputusan-keputusan penting nanti akan ada dia yang menopang saya, menjadi kepala saya saat saya tak bisa berpikir. Saya percaya bahwa dia akan selalu merangkulkan tangannya. Saya percaya bahwa ia akan menunjukkan ke mana saya harus berjalan.

Saya tahu hidup tak akan mudah. Saya tak ingin menuntut banyak darinya.
Saya percaya. Cukup itu jawaban mengapa saya bersedia untuk menikah dengannya.

Kamis, 23 Oktober 2014

Antara Kau, Aku dan KUA

Bismillahirrahmanirrahim,

Dari sekian banyak hal yang harus diurus dalam mempersiapkan pernikahan tentu saja yang paling penting adalah mengurus KUA. Lha wong intinya di situ. Kalau KUA ga beres ya mana bisa nikah mbokdhe. Nah, makanya di sini saya ingin berbagi ke temen-temen yang mungkin akan mengurus KUA tetapi bingung mulai dari mana. Saya ingin berbagi pengalaman saya pribadi nih ceritanya, tetapi yang perlu saya perjelas adalah di sini status saya dan Kangmas adalah orang sipil (bukan militer/polisi), lajang/belum pernah menikah sebelumnya dan akan melangsungkan akad nikah di domisili saya sebagai calon perempuan. Selain yang saya sebutkan tadi mungkin akan berbeda dokumen dan cara pengurusannya.

Berikut adalah dokumen pendukung yang perlu dipersiapkan oleh masing-masing calon manten, baik pria maupun wanita, yakni:

  1. Surat pengantar dari RT dan RW  
  2. Fotokopi C1 atau Kartu Keluarga
  3. Fotokopi KTP Calon Manten dan Wali (kedua orang tua)
  4. Fotokopi KTP Saksi masing-masing Calon Manten
  5. Fotokopi Akta Kelahiran 
  6. Pas Foto ukuran 2x3, 3x4, dan 4x6 
Untuk fotokopi dan jumlah pas foto sebaiknya dipersiapkan secukupnya.

Melengkapi Dokumen Calon Manten Pria Terlebih Dahulu


Untuk mengurus pernikahan yang diadakan di domisili Calon Manten Wanita (CMW) maka langkah pertama adalah mengurus kelengkapan administrasi Calon Manten Pria (CMP) terlebih dahulu. Jadi setelah memiliki dokumen pendukung yang saya sebutkan tadi, yang pertama didatangi adalah Kelurahan tempat CMP tinggal. Kalau menurut pengalaman saya, waktu itu di kelurahan ada form yang harus diisi meliputi biodata singkat CMP, CMW, kedua orang tua dan saksi masing-masing calon. Setelah lengkap lalu diserahkan dengan dokumen pendukung. Selanjutnya pihak kelurahan akan membuatkan Surat N1, N2, dan N4. Teliti baik-baik data yang ada di dokumen ini untuk menghindari kesalahan nantinya.

Setelah beres urusan di kelurahan maka selanjutnya adalah ke Kecamatan untuk minta Biodata diri yang disahkan oleh kecamatan. Pada tahap ini pihak kecamatan juga meminta pas foto kedua calon. Nah setelah selesai lalu dilanjutkan ke KUA tempat CMP berdomisili. Di KUA akan diminta foto dan dibuatkan surat sebagai pengantar menikah ke KUA tempat CMW berdomisili.

Di sini proses mengurus dokumen pihak pria dikatakan selesai.

Melengkapi Dokumen Calon Manten Wanita

Setelah selesai melengkapi dokumen milik CMP langkah selanjutnya akan lebih mudah. Sama halnya dengan langkah yang dilakukan CMP, maka yang pertama dituju adalah Kelurahan. Serahkan Surat pengantar RT RW, Fotokopi C1/KK, dan berkas lengkap milik CMP selanjutnya pihak kelurahan juga akan membuat Surat N1, N2, dan N4. Teliti baik-baik datanya karena itulah yang akan menjadi dasar pihak KUA dalam melakukan pencatatan. Setelah surat-surat tersebut dikonfirmasi benar. Maka selanjutnya kita terbang ke Kecamatan untuk meminta Biodata diri. Selanjutnya adalah ke KUA tempat CMW berdomisili, yakni KUA tempat kedua calon akan menikah. Di sana kita akan melengkapi form tentang nama calon manten yang menikah, nama orang tua dan lokasi pernikahan. Setelah petugas KUA melakukan ceklis berkas, maka akan diberikan surat pengantar untuk melakukan suntik TT. Oya jangan lupa, jika menikah di KUA maka tidak akan ada biaya yang dikenakan alias GRATIS tetapi jika dilakukan di luar kantor KUA harus membayar Rp 600.000 yang kita setor langsung ke pusat melalui bank yang ditunjuk, nanti kita akan diberikan slip setoran yang sudah diisikan oleh petugas KUA.

Jika sudah maka tinggal suntik TT di puskesmas atau rumah sakit juga bisa dan ikut penataran nikah atau BP4 yang biasanya dilaksanakan tiap minggu ke-empat setiap bulannya di Hari Rabu. Nah, selesai sudah. Mudah kok sebenarnya, hanya saja harus siap dulu dengan birokrasi kita yang masih gaya kuno. Hehehe..

Semoga teman-teman yang mau mengurus dapat terbantu ya!

Bonne Chance!!



Rabu, 22 Oktober 2014

Nasehat di Ujung Telepon

Bismillahirrahmanirrahim,

Di tengah hiruk pikuk dan ke-hampirngambek-an saya ngurusin persiapan pernikahan ini saya semacam dapet nasehat yang saya resapi baik-baik.

Persiapan pernikahan memang agak merepotkan walaupun sudah dibuat sesimpel mungkin. Sekuat apa saya menyangkal bahwa saya nggak akan terlalu mau ribet akhirnya ribet juga. Apalagi saya kan yang perempuan, biasanya yang paling repot. Posisi saya juga sebagai anak yang mau dinikahkan, which is segala rangkaian acara ini Bapak Ibuk yang punya gawe. Tetapi kan ya kami sebagai mantennya juga ada pengen acaranya mau seperti apa. Nah di situlah konflik terjadi. Bukan konflik yang serius atau bagaimana sih, hanya perbedaan keinginan saja. Saya yang ada di tengah-tengah kan jadi bingung. Ibuk pengennya begini, Kangmas pengennya begitu. Kan lama-lama saya capek juga nemuinnya gimana, karena jadi serba nggak enak sama dua-duanya. Kepengenan saya pun lebih baik saya kesampingkan daripada nambahin susah nemu solusinya.

Lalu, di saat saya sedang menghela nafas karena menahan keluhan ada telepon dari mbak sepupu di Jawa sana yang ngabari kalau mau datang ke Bali. Basa-basi mbak nanya kapan nikah, ternyata dia belum dikasihtau kalau kemaren saya baru aja lamaran. Walhasil jadi nanyain tanggal dan persiapannya. Mbak bilang gini:
"Nggak usah pusing, kalau persiapan nikah itu pasti bakal banyak yang bantu, tapi yang jangan dilupa persiapan setelah menikah nanti. Kalau udah nikah nanti apa-apa cuma dihadepin berdua."
Saya mengiyakan dan termenung. Betul juga kata Mbak. Yang paling penting ya persiapan setelah menikah nanti, pasti jauh lebih berat karena akan ada pilihan-pilihan yang juga jauh lebih sulit.
"Banyak-banyakin berdoa dek."
Begitu pesannya. Saya jadi malu, betul juga, apakah saya sudah menyiapkan mental dengan baik? Sudahkah saya banyak-banyak berdoa? Saya rasa belum. Terimakasih telah mengingatkan mbak. Semoga persiapannya lancar dan hidup baru saya dan Kangmas nanti juga dimudahkan.


Selasa, 05 Agustus 2014

Survey Season Kedua

Bismillahirrahmanirrahim,

Eaa..jumpa lagi dengan Maissy di sini. Eh maaf, ini bukan acara Cilukba ding. Setelah sebulan nggak posting. Yuk mari kita duduk dan bicarakan lagi soal persiapan pernikahan antara saya dan Kangmas.
Jadi ceritanya libur lebaran yang lumayan panjang kami manfaatkan untuk mengunjungi vendor-vendor on the list. Meskipun sempat terkendala hari libur lebaran di mana vendor banyak yang tutup, syukur Alhamdulillah kami dapat info yang lebih dari cukup.

Dekorasi

Tempat pertama yang berhasil saya dan kangmas kunjungi adalah vendor untuk dekorasi. Vendor ini sebenarnya sudah lama saya dengar dari Ibuk saya yang dapet rekomendasi dari catering. Tapi baru kesampaian didatengi liburan kemaren. Nama vendornya Singsing Decoration, alamatnya ada di Minggiran, Mantrijeron, Yogyakarta. Untuk ke sana saya sebelumnya sudah telepon lebih dulu untuk tau ancer-ancer lokasinya. Syukurnya di jalan ada plang-plang petunjuk Singsing yang cukup jelas sehingga bisa mendarat di kantor yang sekaligus kediaman Pak Soleh sang pemilik. Sampai sana kami disambut ramah Pak Soleh dan istrinya dan ditunjukkan contoh-contoh dekorasi. Yang jelas dari hasil presentasi dari Pak Soleh, saya dan Kangmas mantap memilih Singsing sebagai vendor dekorasi kami nanti. Untuk bisa ngintip contoh dekornya bisa ke webnya singsing-wedding.com tapi kalau mau lebih lengkap dan mantap ya datang langsung ke kantor Singsing.



Undangan

Sebelumnya saya sudah mengantongi salah satu vendor undangan yang akan kami kunjungi. Pada survey sebelumnya, saya sudah sempat lihat-lihat contoh undangannya. Nah kemaren waktu sama Kangmas, ada satu yang sederhana tapi menarik perhatian saya.


Nama vendornya Gracia dan beralamat di Jl. Jambon. Jadi dari Jl. Magelang nanti belok ke kiri. Kalau ingin intip contoh-contoh undangannya ada di page facebooknya, search aja Gracia Invitation. Rencananya sih vendor ini yang akan saya percayai untuk membuat undangan. Si pemilik sangat ramah dan sangat membantu, kita bisa bilang berapa budget kita nanti mbak Evelyn akan pilihkan yang sesuai.


Rias Pengantin

Untuk rias pengantin ini saya paling galau, karena saya punya banyak keinginan. Saya pengen yang begini ga pengen yang begitu, sampe frustasi. Hahhahah. Setelah browsing di internet dan hasil nanya temen, dapet satu vendor yang akan kami datangi. Lokasinya ada daerah Kotagede tepatnya perumahan Wirokerten. Nama vendornya Rias Pengantin Pratiwi. Waktu itu saya tidak bertemu dengan Bu Sandra langsung tapi ada mbak Sudri yang sangat membantu dan ramah. Dari hasil kunjungan itu saya nyobain dua macem kebaya, tapi belum fix karena untuk baju Kangmas perlu menyesuaikan juga mengingat Kangmas memang spesial. hihi. Saya dan Kangmas sepakat untuk memakai vendor ini nantinya.
Di kesempatan itu saya sudah ungkapkan ke Mbak Sudri kalau saya pengen nanti jilbabnya menutup dada. Nah untuk proses selanjutnya masih dalam penggodogan sih. Semoga semua lancarrrrr...amin. Begitulah laporan singkat saya, semoga bisa saling bantu untuk teman-teman yang juga sedang mempersiapkan. Sampai jumpa di postingan selanjutnya!

Jumat, 04 Juli 2014

Galau-ness

Bismillahirrahmanirrahim,

Dulu ketika saya masih kecil, seorang mas remaja mesjid mengutarakan keresahannya kepada mbak saya. Dia resah bahwa mungkin saja ramadhan kali itu adalah ramadhan terakhirnya sebagai single. Bukannya tidak senang, dia hanya resah bahwa mungkin saja nanti ketika ia sudah berkeluarga, ia tak bisa lagi sering-sering bergabung dengan kegiatan remaja masjid seperti sebelumnya. Mungkin saja ia akan disibukkan dengan urusan keluarga kecilnya. Waktu itu saya cuma mendengarkan karena masih terlalu kecil. Dan benar saja, saya tak pernah melihat mas itu di ramadhan-ramadhan setelahnya sejak ia menikah.

Saya rasa keresahan semacam itu telah datang pada saya.

Saya sering melamun. Saya memikirkan keluarga saya. Sebentar lagi saya akan menikah, adik saya semakin besar, orang tua saya semakin tua. Apakah saya masih bisa melakukan banyak hal bersama mereka seperti sebelumnya saat saya sudah berkeluarga nanti. Apakah kami masih bisa sarapan bersama? Apakah saya masih bisa menemani adik saya membeli sepatu atau mencoba makanan baru bersama? Di belahan bumi manakah saya dan keluarga kecil saya tinggal nanti? Apakah saya akan ada saat mereka sedang sakit flu? Apakah adik saya selepas SMA nanti tetap di rumah atau meninggalkan Bapak Ibuk untuk kuliah? Saya hanya takut dan sedih membayangkan Bapak dan Ibuk hanya berdua di rumah.

Allah, hamba-Mu memang tak mungkin meminta waktu kembali. Tapi hamba bersyukur bahwa pada hari ini hamba merindukan masa-masa itu. Paling tidak, hamba bisa melakukan banyak hal yang menyenangkan bersama mereka dan bukan penyesalan karena tak melakukan apa-apa dulu. Allah, selalu jaga mereka di saat hamba jauh, saat hamba tak bisa setiap hari memandang wajah mereka. Sehatkan jasamani mereka, bahagiakan dan tentramkan rohani mereka, mudahkan segala urusan mereka. Kumpulkanlah kami dalam keadaan yang baik. Engkaulah yang mengatur segala sesuatunya Ya Allah..maka berikanlah yang terbaik bagi mereka.

Kamis, 03 Juli 2014

Silaturahmi Balasan

Bismillahirrahmanirrahim,

Untuk menunjukkan bahwa saya dan keluarga menyambut baik niat keluarga Kangmas, keluarga saya, khususnya Ibuk mengajak untuk silaturahmi balasan ke rumah kangmas. Silaturahmi itu dilakukan saat saya pulang ke Jogja, dua bulan setelah kedatangan keluarga Kangmas ke rumah.

Berhubung Ibuk saya sebenarnya tidak begitu tahu urutan proses menjelang pernikahan, maka bertanyalah Ibuk saya ke Budhe yang lebih pengalaman. Konon kata Budhe saya, kalau adat di Jawa Tengah, setelah pihak laki-laki datang ke rumah untuk melamar, maka selanjutnya pihak perempuan datang ke rumah pihak laki-laki untuk membalas, tetapi kalau di Jogja adat tersebut tidak ada. Namun, wacana mengenai silaturahmi balasan ini memang sudah tercetus oleh Ibuk saya sebelum nanya-nanya, mungkin sudah naluri Ibuk saya yang senang menjalin silaturahmi, makanya keraguan Ibuk mengenai apakah perlu untuk datang ke rumah Kangmas akhirnya saya jawab dengan tidak ada salahnya untuk berkunjung dan bersilaturahmi agar saling mengenal dan saling tahu rumah masing-masing keluarga.

Jadi selepas maghrib keluarga saya lengkap datang berkunjung ke rumah Kangmas. Saat itu Kangmas tidak ada di rumah karena memang sedang tidak pulang. Maklum saya pulangnya di hari kerja karena di Bali sedang libur Galungan. Pada kunjungan tersebut kami membicarakan tentang kapan rencana kami untuk mengadakan pernikahan, dan teknisnya meski belum terlalu detail tetapi cukup memberikan gambaran untuk keluarga Kangmas. Saat dimintai pendapat dan persetujuannya, keluarga Kangmas pada intinya mendukung dan mengikuti saja. Selain itu acaranya ya ngobrol-ngobrol dan makan-makan, hehe. Alhamdulillah semuanya lancar sampai dengan tahap ini, paling tidak, tidak ada yang keberatan atau bagaimana. Sampai suatu ketika, seminggu kemudian Kangmas dengan mak jedher memberikan alternatif tanggal yang berbeda, padahal sebelumnya udah di kunjungan saya di keluarga Kangmas kami sudah mengutarakan tentang tanggal. Eaaaa!

Sabtu, 28 Juni 2014

Sajak Lama

Menemukan tulisan di notepad tahun 2009, tentang dia.

kadang masih sulit dimengerti..
masih juga serin bertanya-tanya
mengapa sampai sekarang ku masih bersama dirinya
apa yang bisa menyebabkan semua ini

untukku..
aku masih membutuhkannya
aku masih takut kehilangan dirinya
aku masih menyayanginya dengan segenap hatiku
bukan dari serpihan hati..
mengapa cemburu masih begitu membara kalau bukan karena
aku masih sangat peduli dengannya

lalu apa dari dirinya yang membuatnya begitu berharga
entah..
tapi memang dirinya yang telah menyentuh hatiku
sampai seperti ini..
sampai sedalam ini..

tapi ..
cukup peduli tak cukup untuknya
itulah yang seringkali membuatku merasa tak mampu
tak mampu membuatnya bahagia
itulah yang seringkali membuatku iri dengan orang-orang yang
mampu membuatnya senang
aku cemburu..
karena aku tak mampu membuatnya sesenang itu bersamaku.

sebenarnya bukanlah muluk yang kuharapkan
tapi cukup membuatmu merasa senang bersamaku
itu saja cukup..
tapi itu sulit
sulit sekali..

Saatnya Kenalan Yuk

Bismillahirrahmanirrahim,

Seringkali pasangan yang mulai serius untuk menikah bingung untuk memulai prosesnya dari mana, terutama bagian bicara orang tua si perempuan. Rasa gugup pasti menghantui, tapi proses memang harus terjadi. Harus! Tidak bisa tidak. Ibarat mau sowan (bertamu) ke rumah orang kalau pintunya gak diketuk ya gak akan dibuka pintunya.

Gugup tidak hanya terjadi pada laki-laki yang mau 'meminta' tetapi juga si perempuan. Saya pribadi waktu itu bingung mau ngomong ke Ibuk gimana. Rasanya saya masih putri kecil yang dianter sekolah, eh sekarang bilang ada laki-laki yang mau nikah sama anaknya, semacam bahan obrolan yang terlalu dewasa buat saya. Tetapi akhirnya saya memberanikan bicara, dengan sedikit basa basi haha hihi di awal pembicaraan (yang waktu itu lewat telepon), ternyata ibuk saya menangkap keanehan saya dan menanyakan sebenernya mau ngomong apa sih ini anak. Hahaha. Akhirnya saya bilang deh ke Ibuk, bahwa Kangmas-lah yang jadi calon pelaku pengambil alih anaknya.

Setelah beberapa kali pembicaraan, akhirnya Ibuk mengharapkan si calon pelaku itu datang ke rumah. Kami semua setuju, saat pulang ke Jogja Januari nanti, kangmas akan main ke rumah. Sampai akhirnya waktu itu tiba dan Kangmas mengungkapkan maksudnya ke kedua orang tua saya. Hasil pembicaraan masih mentah saat itu, tapi saya lega satu tahap terlalui. Untuk selanjutnya, saya menginginkan Bapak Ibuk kangmas bisa datang ke rumah agar bisa saling mengenal Bapak Ibuk saya. Waktu itu kangmas masih agak gimanaaa gitu, tapi sayanya ngotot juga. Pokoknya saya pingin Bapak Ibuk bisa kenalan sama Bapak Ibuknya kangmas. Biar enak aja gitu nanti-nantinya. Hihi. Jadi kalau saya ada pembicaraan ke Bapak Ibuknya kangmas, Bapak Ibuk saya tuh posisinya udah kenal gitu lo.

Akhirnya seusai melewati negosiasi dengan Kangmas, kepulangan kami ke Jogja saat liburan Nyepi di Bulan Maret ingin kami manfaatkan dengan perkenalan antar kedua keluarga. Ibuk saya yang sok mau terlihat simpel, eh ribet juga nyiapin ini itu, tapi wajar aja sih..ibuk-ibuk dan posisinya jadi tuan rumah itu udah pasti keluar ribetnya. Tapi Alhamdulillah semua berjalan lancar. Bapak Ibuk Kangmas datang dengan sangat tepat waktu sampai membuat kami tuan rumah yang daritadi ribet nyiap-nyiapin jadi kelabakan sendiri. Maklum, untuk acara ini Ibuk saya sengaja tidak minta bantuan bude yang sering bantu-bantu. Jadilah saya belum sempat bersolek muncul apa adanya, hahaha.

Di acara perkenalan itu ya, Bapak kangmas mengutarakan maksudnya untuk 'meminta' saya. Selain itu ya lanjut ngobrol-ngobrol saling mengenal tentang keluarga, daerah asal, pekerjaan dan topik-topik yang secara umum dibicarakan oleh orang yang baru saling mengenal. Setelah itu dilanjutkan acara makan bersama, masakan Rawon ala Ibuk saya. Syukurlah semua lancar, dan saya merasa lega karena akhirnya kedua orangtua saling bertemu. Kalau udah gini kan enak..mau ngobrolin soal nikah jadi lebih terbuka.

Buah manis silaturahim. Tak Kenal Maka Ta'aruf :)

Jumat, 27 Juni 2014

Survey Dekor dan Rias Pengantin

Bismillahirrahmanirrahim,

Sejauh ini, vendor yang saya survey alias saya datangi langsung adalah vendor yang sudah saya keruk informasinya lewat website mereka. Kalau saya cocok ya saya datangi, kalau enggak ya lupakan. Jadilah saya sudah tahu tempat mana saja yang saya harus datangi.

Menjelang berakhirnya waktu saya di Jogja, saya dan Ibuk pergi ke salah satu vendor yang rencananya akan jadi calon vendor yang mengurus dekorasi gedung dan rias pengantin. Di sana kami lihat-lihat baju. Ada baju untuk pengantin, karena saya pakai jilbab jadilah pilihannya ada kebaya atau gamis. Tapi kata si embak vendor itu, kalau misal nggak ada yang cocok bisa jahitin tapi pakai biaya sewa yang lebih mahal, jadi bajunya dibikin buat pengantinnya tapi abis itu jadi hak milik vendor. Mungkin ini solusi buat calon manten yang kepikiran pengen jahit baju sendiri tapi takut sayang karena sekali pakai aja. Selain kebaya, gamis, juga ada jenis bridal yang selera internasional gituh. Ada juga baju-baju buat among tamu dan penjaga buku tamu.

Soal dekorasi, saya memang cocok sama model-model dekorasi vendor ini makanya saya pilih rias di vendor ini sekalian. hehe, biar ngirit pikiran. Lalu kenapa saya tidak pilih paket yang disediakna vendor ini? Karena menurut saya sementara ini memang belum perlu ambil paket. Ibuk saya apalagi, pengennya bisa milih satu-satu vendor apa yang mau dipakai. Yahahaha...

Semoga lancarrr deh semuanya!

Survey Undangan

Bismillahirrahmanirrahim,

Lagi-lagi memanfaatkan kepulangan saya ke Jogja. Saya memberanikan diri untuk ke vendor undangan. Sudah jauh-jauh hari sebelumnya, hasil cari-cari ketemulah yang sreg sementara gawean Empat-K. Sebenernya vendor ini enggak asing lagi. Dari jaman SD saya udah tahu iklannya di koran KR sama saya juga pernah liat langsung undangannya. Yang saya taksir dari Empat-K adalah karikaturnya. Lucu!

Jadilah Empat-K vendor pertama yang saya datangi. Agak keder juga survey sendirian kayak anak ilang, tapi kalau gak diberaniin gak akan kebayang apa-apa nanti. Sejauh saya lihat-lihat sih saya tetep suka sama contoh undangan yang ada di web dan saya liat langsung di sana. Bentuk undangannya karikatur pop-up gitu.

Vendor kedua yang saya datengin adalah di sekitar Jalan Magelang. Sebelumnya saya tahu vendor ini dari facebook dan saya naksir sama contoh-contoh undangannya. Unik-unik gitu tapi nggak norak. Itu yang paling penting buat saya. Kan ada tuh yang undangannya kelewat neko-neko. Dari vendor satu ini saya juga ada satu yang paling cocok seperti yang saya incer waktu liat di foto facebook. Waktu saya konsultasi ke kangmas, dianya setuju ajah.hihi..nah sementara sih udah kepegang satu yang jadi model undangan kita nanti. Rencananya sih waktu pulang lebaran nanti kami mau mantepin lagi mau pilih model yang gimana dan juga dateng ke vendor berdua. Yosh!

Survey Gedung

Bismillahirrahmanirrahim,

Karena masih belum punya pengalaman, maka yang sering saya lakukan adalah browsing segala macam tentang persiapan pernikahan. Jadi kalo lagi boker trus kepikir abis itu langsung nyalaun laptop, kalo lagi tidur-tiduran langsung sarching di hape, kalo lagi nyuci ya ditinggalin nyucinya buat cari-cari info di google. Pokoknya di kepala terlintas pengen cari tau apa langsung saya cari ndak keburu lupa! hehehe.

Tapiii...gak semua hal bisa di-googling broooh, ada hal yang kita perlu tanya orang yang lebih tua atau yang udah ngalami langsung. Kangmas saya terutama sangat mendorong saya untuk bertanya ke temen-temen yang udah perngalaman. Meskipun saya sering ngeyel (maaf ya mas, hehe) tapi akhirnya saya lakukan juga kok. Kami berdua sama-sama cari tahu.

Karena kami sama-sama jauh dari Jogja, jadilah kesempatan kami untuk survey langsung sangat terbatas. Maka ketika saya pulang ke Jogja, saya manfaatkan hal itu untuk mencari tahu langsung. Nasib cuma sendiri, jadilah saya muterin Jogja dari ujung ke ujung. Hal pertama yang saya datangi adalah Aula Ahmad Dahlan yang direncanakan sebagai gedung walimah nanti. Meskipun sudah sering ke UMY tapi saya lupa-lupa ingat penampakan gedungnya seperti apa. Jadi pada kesempatan pertama, saya foto-foto gedungnya dan saya kirim ke Kangmas. Penilaian saya saat itu sih gedungnya lumayan luas, walaupun langit-langit betonnya menunjukkan kesan yang pendek tapi aslinya tinggi juga kok. Lalu di kesempatan kedua, saya coba untuk bisa ke kantornya langsung. Karena saya kurang tahu ke mana harus menghubungi pengurus gedung maka saya dateng langsung aja ke rektorat, setelah nanya Pak Satpam kemudian diarahkan ke gedung Sportorium karena ternyata soal penyewaannya jadi satu di Kantor Sportorium.





Nanya-nanya sebentar sama pengurusnya saya dikasih satu bendel kertas yang berisi tentang harga gedung, fasilitas, fasilitas lain apa saja yang dapat disewa, dan ketentuan-ketentuan lainnya. Ternyata beda lho sama yang ada di web. Jadi itu keuntungannya kalau tanya langsung. Di kantor itu juga ada banyak kartu-kartu nama sama pamflet tentang catering, dekor, dll kan lumayan bisa buat referensi. Setelah pulang dan ngobrol sama Bapak-Ibuk, kita mantepin tanggal dan minta tolong Bapak besoknya buat bookingin gedungnya. Alhamdulillah..

I will!

Bismillahirrahmanirrahim,

Telepon genggam tiba-tiba berbunyi sekitar 20.30 WITA, ternyata telepon dari sang Ibu dari kangmas. Dalam hati bertanya, ada apa yaa kok sampe ditelpon. Tanpa ragu saya angkat. Singkat cerita saya setengah kaget, setengah bingung, setengah ga percaya, sang Ibu menyatakan keseriusan anak laki-lakinya untuk mengajak saya menikah dan menanyakan kesediaan saya. Mak jedher! antara senang tapi bingung saya mau jawab apa. Ibu juga menanyakan tentang kondisi saya yang masih terikat pernyataan untuk tidak menikah selama setahun sejak saya mulai bekerja, apakah itu tidak menjadi masalah? Ibu hanya tidak ingin merepotkan saya.

Saat itu juga, pikiran saya langsung bekerja, entah saya lebih berat menggunakan logika atau perasaan saya. Tapi langsung saya katakan saat itu juga bahwa buat saya pribadi saya tak ingin pekerjaan menjadi halangan, rejeki sudah ada yang ngatur, kalau niatnya ibadah insya Allah ke depannya juga baik. Tapi saya juga katakan kalau saya juga perlu bertanya pada Bapak-Ibuk saya. Setelah percakapan itu, saya masih beku ga percaya. Kangmas ga cerita apa-apa sebelumnya, jadi ini agak mengagetkan saya. Hahahah.

Setelah bertanya ke Bapak-Ibuk sempat terdengar nada yang berat. Bukan tak setuju dengan kangmas tetapi Ibuk saya memikirkan pekerjaan saya, melihat saya berjuang memperoleh kerjaan lalu baru sebentar saya ingin menikah. Saya yakinkan ke Ibuk saya bahwa saya tak keberatan, rejeki sudah ada yang ngatur.

Meskipun rencana pernikahan itu sempat mental dan mentah lagi tetapi akhirnya Ibuk saya luluh, Alhamdulillah dengan ijin Allah tentunya. Kata Ibuk, saya sudah cukup usia untuk menikah, sudah menyelesaikan studi sarjana saya, jadi sudah tugas orang tua untuk menikahkan kalau memang anak sudah meminta.

Alhamdulillahnya..Ibuk saya adalah yang paling bersemangat mengurus segala persiapan. Saya senang karena bisa dibantu Ibuk, maklum posisi saya di Bali agak menyulitkan saya untuk mengurus semuanya sendiri. Saking semangatnya, idenya suka gonta-ganti, errrrrr.

Setiap keputusan pasti ada resikonya, dan insya Allah..saya siap menghadapi resikonya. I'll take the risk! I Will!

Menikah atau "Nanti saja"

Bismillahirrahmanirrahim,
Bonsoir!

Memutuskan menikah bukanlah suatu yang mudah. Saya seringkali mendengar dari beberapa teman yang belum maupun sudah menikah berkata,
"Menikah itu tidak seindah yang dibayangkan"
"Dibanding senengnya, lebih banyak menderitanya!"
"Udah deh, gak usah nikah! Hahahaha"
"Iya nih, ga enak, ga sebebas dulu.."
"Aku sih udah enjoy sendiri, jadi soal nikah nanti ajalah"
Masih banyak lagi yang pernah saya dengar. Kadang itu menjadikan kegugupan tersendiri, tetapi ternyata bagi saya dorongan untuk segera menikah itu lebih besar dibanding untuk menundanya. Kalau kata seorang teman, "Syetan itu akan menggunakan berbagai cara agar kamu tidak menikah." Cemen dong kalau sampai kalah sama bisikan setan. Na'udzubillahi mindzalik.

Saya setuju kok dengan menyegerakan menikah. Tetapi memang ada permintaan orang tua agar saya menyelesaikan kuliah dulu baru memikirkan menikah. Maka selulus kuliah dan sudah bekerja, kegalauan itu luar biasa hebatnya. Saya berpikir, apa lagi yang harus ditunggu? saya dan kangmas sudah sama-sama lulus dan bekerja, lalu apalagi? Pikiran itu mengganggu saya sampai akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya pada kangmas, "Sebenernya apa lagi yang kita tunggu? Kapan kita menikah?" Kangmas menanggapinya dengan bercanda, mungkin agak aneh baginya karena saya tiba-tiba bertanya. Tetapi ketika ia tahu saya serius, ia menjawabnya. Dan jawaban itu meskipun agak membuat saya sedih saat itu tetapi membuat saya meyakinkan diri untuk bersabar. Saya bertanya maka saya dapat jawabannya, cukup kan?

Setelah itu, paling tidak saya lebih lega karena akhirnya bertanya-dijawab-dan tahu bahwa mungkin menikah bukanlah hal yang cukup dekat saat itu. Apakah kegalauan itu hilang setelah bertanya? Tentu tidak. Hahaha. Kegalauan itu tentu terus berlanjut hanya saja dalam tingkat yang lebih rendah dan mampu saya kendalikan. Saya alihkan itu ke dalam doa-doa saya.

Di lain sisi, tentu saja Kangmas bukan tidak mungkin memikirkan hal yang sama. Hanya saja dia lebih banyak diam tak bercerita. Tentu memutuskan untuk menikah jauh lebih sulit baginya karena dialah yang akan menjadi pemimpin. Tentu tidak mudah karena ada banyak hal yang ia pikirkan baik keluarganya maupun keluarga yang ia bangun sendiri nanti, tentang tanggung jawabnya sebagai anak pertama, anak laki-laki, sebagai suami dan ayah kelak. Tentu saja itu saja itu tak semudah menentukan akan makan malam pake lauk apa. Kadang sesekali ia bercerita tentang keraguannya, apakah mampu menghidupi istri dan anaknya nanti dan saya hanya bisa menjawab, tak perlu khawatir, tak perlu jauh melihat tetapi lihatlah orang tua kita yang mungkin pendapatannya biasa saja nyatanya mampu menyekolahkan dan menghidupi kita dengan layak.

Saya pernah melihat, penjual gorengan yang berjualan ditemani anak dan istrinya. Saya tahu penghasilannya tak seberapa, tetapi mereka tampak begitu akur dan bercanda. Saya juga pernah lihat, tukang gali pasir di dekat kampung saya, yang rumahnya hanya sepetak kotor dan kumuh, yang kadang sang suami tidur di bawah mobil pick-up tetapi ia tampak begitu menikmati hidup dengan anak-anak dan istrinya serta anjing-anjing yang ia pelihara.

Jadi kebahagiaan itu sederhana saja bukan? Dan menurut saya, menikah adalah salah satu cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Masih berpikir nanti untuk menikah?

Setelah PMS apakah lalu PWS?

Bismillahirrahmanirrahim,
Selamat siang semua!

Sebagai seorang perempuan tentu saya mengalami perasaan-perasaan aneh ketika membayangkan akan menikah. Bahkan perasaan itu sudah ada jauh sebelum saya dan kangmas memutuskan untuk menikah. Yaitu saat saya datang ke acara keluarganya kangmas dan waktu itu disambut oleh Bapaknya yang sangat di luar dugaan saya, saya sampai speechless. Berkali-kali saya ceritakan ini tapi memang begitulah perasaan saya waktu itu. Bukan tidak senang tetapi hanya tersadar, umur saya memang sudah pantas kalau suatu hari nanti menikah. Tapi yang membuat saya galau saat itu juga adalah..bagaimana ketika menjadi anak dari Bapak Ibuk mertua saya nanti, dan tidak lagi menjadi tanggungjawab Bapak Ibuk saya melainkan berpindah ke suami saya. Apakah saya siap..?

Tentu perasaan itu wajar. Katanya hal itu biasa disebut dengan Prewedding Syndrome (PWS). Wah apalagi nih? Perempuan sudah cukup aneh dan merepotkan ketika PMS ini masih ada aja PWS.

PWS tentu tak hanya dialami oleh perempuan tetapi bisa juga terjadi pada laki-laki karena tanggung jawab mereka akan semakin besar nantinya setelah berkeluarga. Kalau bagi saya sebenernya PWS ini yaa setipe-tipe perasaan yang mampir ketika saya akan menghadapi hal baru seperti sekolah baru, pekerjaan baru, suasana baru, yaaah..semacam nervous gitu lah. Kadang jika nervous itu tak muncul secara alami maka akan sengaja saya buat. Aneh ya? Tapi menurut saya itu adalah treatment ampuh bagi psikologis saya agar saya selalu prepare for the worst. Jadi ketika pada kenyataannya saya mengalami hal yang lebih baik dari ekspektasi saya, maka saya akan merasa senang tetapi ketika yang terjadi adalah kebalikannya, saya tidak akan terlalu kaget atau bersedih.

Nah soal menyoal persiapan pernikahan ini, yang sedang sering menghinggapi perasaan saya lebih pada pikiran-pikiran bagaimana setelah menikah nanti. Saya sadar semua tak akan sama seperti sebelum menikah. Saya tak lagi sendiri, saya tak lagi seenak hati mau ke mana dan ngapain karena saya akan jadi istri yang membawa kehormatan suami saya. Selain itu, nanti ketika saya sudah menjadi istri, definisi "Pulang" bukanlah lagi ke orang tua tetapi ke suami. Rumah yang sedari kecil hingga dewasa melindungi saya dari rasa sedih dan membuat saya merasa tentram. Kadang saya merasa agak sedih karenanya. Saya akan berpindah rumah, maka saya bertekad untuk menjadikan rumah kami nanti "rumah" yang nyaman untuk anak-anak kami selalu "Pulang" sama halnya dengani rumah orang tua kami.

Insya Allah, saya tak ragu pada kangmas sebagai calon suami saya. Soal rezeki sudah ada Allah yang atur, bahkan saya pernah membaca ini:
Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡”. (HR. Hakim dan Abu Dawud)
“Carilah rezeki dengan menikah”. (HR. Ad-Dailami)
Jadi insya Allah kami percaya bahwa kalau niatnya baik, Allah pasti akan membantu.

Kami memang sama-sama tak sempurna, mungkin jauh dari sempurna, tetapi kami ingin bersama-sama menjalankan ibadah ini. Saling memilih untuk saling mengingatkan.

Kamis, 26 Juni 2014

Memilih Gedung untuk Walimah

Bismillahirrahmanirrahim,
Selamat pagi semua!

Setelah pos sebelumnya sudah memperkenalkan diri siapa yang mau nikah. Posting kali ini saya mau cerita tentang pilih-pilih gedung. Jadi, awal cerita karena saya dan kangmas sama-sama anak pertama, di mana orang tua kami sama-sama belum punya pengalaman, jadilah kami jujur saja bingung mau mulai dari mana yang harus dikerjakan. Nah hasil tanya-tanya teman, Alhamdulillah dapat gambara secara umum langkah awal apa yang harus dimulai terlebih dahulu. Kira-kira hal di bawah inilah yang perlu diperhatikan.
  1. Tetapkan Tanggal Pernikahan
  2. Mencari Gedung
  3. Membuat Undangan
Sebenarnya menyesuaikan saja sih, bisa jadi tiap pasangan atau keluarga berbeda-beda.

Tetapkan Tanggal Pernikahan

Bagi saya dan keluarga, semua hari adalah baik jadi Bismillah saja untuk menentukannya dan banyak berdoa. Bagi saya pribadi, selama ini pertimbangan-pertimbangan yang digunakan adalah estimasi jarak yang normal dari kapan lamaran dan akadnya, hubungannya dengan pekerjaan entah orangtua, saya atau kangmas, kemudian yaaa yang dikira-kira pas lah.hehehe. Setiap keluarga pasti punya pertimbangan yang berbeda-beda. Nah kaitannya penetapan tanggal ini sangat penting untuk mencari gedung (kalau misalnya acara walimah atau resepsi tidak dilakukan di rumah). Dengan mengantongi tanggal fix ini kita jadi bisa booking gedung.

Mencari Gedung

Di Jogja, atau mungkin di mana saja, booking gedung sudah dilakukan jauh-jauh hari. Takutnya kalau nggak gitu tanggal yang diinginkan ternyata sudah ada yang booking, kan sedih jadinya. Maka kalau bisa lakukan booking gedung sesegera mungkin. Kalau tanggal sudah oke, dan gedung juga sudah oke kan selanjutnya kita tenang kalau mau bikin undangan. Ya gak? hehehe. Untuk saya pribadi dan keluarga sih, gedung yang dipakai harus memenuhi kriteria yang standar sih sebenarnya tapi cukup representatif seperti parkir luas, area gedung yang lega, dan tentu saja murah! biar nggak overbudget toh saya dan keluarga cuma ingin yang sederhana saja. Akhirnya, karena Bapak saya bekerja di UMY pilihannya jatuh ke gedung Aula Ahmad Dahlan di kompleks kampus UMY di Ringroad Selatan. Kalau mau infonya bisa lihat di sini. Tapi untuk lebih jelasnya sih bisa datang langsung ke kantornya yang berada di dalam gedung Sportorium UMY.

Membuat Undangan

Saya dan kangmas sebenernya sudah laamaaaaa banget ngomongin gimana ya nanti undangan pernikahan kami. Kami pengen yang lucu, ga pengen yang terlalu umum, ga pengen yang ada fotonya, daaan masih banyak lagi kriteria. Padahal waktu itu mau nikah aja belom. hiihihi. Nah tapi secara umum selera kami nih sama jadi nggak terlalu sulit untuk menyesuaikannya. Kangmas sering ngasih link-link tentang contoh undangan pernikahan yang unik, saya sendiri juga sering browsing, atau lihat-lihat di page facebook tentang contoh undangan. Sampai akhirnya saya menemukan undangan yang unik dan setelah minta acc, kangmas juga menyetujuinya. Syukur deh..jadi tanggal, gedung sama calon undangan udah dapet jadi insya Allah nanti waktu pulang jogja bisa langsung survey sama kangmas. Ihik.

Sementara ini, tahap awal itu cukup membantu sih. Jadi siapa tahu ini juga bisa jadi tips untuk temen-temen yang sedang mempersiapkan pernikahan juga tapi bingung mau mulai dari mana.

Au Revoir! Sampai Jumpa!

Sabtu, 21 Juni 2014

Who We Are?

Selamat pagi para pembaca yang budiman,

Di post sebelumnya saya sudah bilang kalau blog ini sengaja dibuat untuk merekam segala keriweuhan si penganten wannabe ini. Kenapa alamat blognya agak bikin lidah keseleo ya, ya abis gimana lagi nyari judul yang simpel udah kepake semua, akhirnya saya pilih kata sederhana dengan bahasa yang pernah saya pelajari dulu, bahasa Perancis alias Francais. Nah untuk post kali ini saya ingin menjelaskan kepada pembaca tentang siapa sih yang mau nikah? Baiklah saya jawab. (padahal ada yang nanya aja enggak, hehe)

Saya nggak akan nyebut nama sih, tapi hanya menjelaskan sedikit gambaran tentang saya dan kangmas. Jadi cerita singkatnya sih, saya dan kangmas calon ini adalah teman satu angkatan SMP di salah satu SMP negeri di Jogja. Klise banget yah bahasanya. hahaha. Tapi ya begitulah kami, teman SMP yang kemudian menjadi teman SMA, kuliahnya pun di universitas yang sama meskipun beda fakultas. Maklum saja karena kami sudah beda aliran sejak SMA. Nah karena kami beda fakultas, akhirnya kami malah jadi teman satu tim KKN juga. Begitulah kami selalu bersama-sama, sampe wisuda pun di hari yang sama.

Selulus kuliah akhirnya kami pisah karena kangmas kerja di Jakarta dan saya bekerja di Bali. Iya kalau bahasa masa kininya tuh kami disebut LDR. Tapi LDR ini bukannya bikin kita tambah renggang tapi justru makin serius sehingga kami memutuskan untuk menikah. Alhamdulillah, akhirnya doa-doa saya dijawab Allah di waktu yang sama sekali tidak saya duga meskipun udah ngarep dari lama. Kangmas akhirnya memutuskan untuk mengkhitbah saya sewaktu kami sama-sama pulang ke Jogja. Dari peristiwa itulah yang selanjutnya bikin si penulis ini pengen bikin blog baru buat lipsus persiapan pernikahan dan serba-serbi perasaan yang dirasakan penulis.

Nah cukup jelas kan ya gambaran tentang calon mantennya, gak usah detail-detail ndak nanti ketebak duluan. (koyo terkenal wae mbak)

Hahaha

Sampai jumpa di post berikutnya!

Bonjour a Tous!

Halo semua!

Sesuai dengan judul header ini, saya kepingin menyapa semua yang membaca blog baru ini. Sebenarnya saya iseng-iseng aja sih pengen bikin blog baru. Isinya ingin mengkhususkan tentang persiapan dan serba-serbi menikah. Hal ini terdorong karena selama saya browsing soal persiapan pernikahan ada blog-blog yang memang dibuat khusus untuk merekam semua persiapan. Nah jadi sebenarnya saya ini entah antara ikut-ikutan atau enggak, tapi saya rasa soal persiapan ini memang harus punya blog sendiri. Tadinya mau pos di blog wordpress, tapi apa daya udah lupa password saking lamanya dianggurin. Hehehe.

Blog ini dibuat tanpa sepengetahuan kangmas calon. Jadi biar ini jadi rahasia kita yah..hihi, tapi saya bakal kasih tahu kangmas kok nanti..iya..nanti. Biar ada isinya buat dibaca gitu.

Yaudah bismillahirrahmanirrahim semoga blog ini bisa lumayan keisi (amin!) berhubung si penulis ini sukanya tepar duluan kalo udah pulang dari kantor. Dan semoga blog ini berkah juga yah pemirsah. Di blog ini saya mau bebas aja ah nulisnya, gak terpatok pemilihan kata yang rumit macem blog pribadi si penulis. hehe.

Selamat membacaaa :D

Pengalaman Sunat atau Khitan Anak

Bismillahirrahmanirrahim, Kalau mau diberi judul rekomendasi sunat anak rasanya kurang pas juga karena saya baru pertama kali khitan anak ...