Di tengah hiruk pikuk dan ke-hampirngambek-an saya ngurusin persiapan pernikahan ini saya semacam dapet nasehat yang saya resapi baik-baik.
Persiapan pernikahan memang agak merepotkan walaupun sudah dibuat sesimpel mungkin. Sekuat apa saya menyangkal bahwa saya nggak akan terlalu mau ribet akhirnya ribet juga. Apalagi saya kan yang perempuan, biasanya yang paling repot. Posisi saya juga sebagai anak yang mau dinikahkan, which is segala rangkaian acara ini Bapak Ibuk yang punya gawe. Tetapi kan ya kami sebagai mantennya juga ada pengen acaranya mau seperti apa. Nah di situlah konflik terjadi. Bukan konflik yang serius atau bagaimana sih, hanya perbedaan keinginan saja. Saya yang ada di tengah-tengah kan jadi bingung. Ibuk pengennya begini, Kangmas pengennya begitu. Kan lama-lama saya capek juga nemuinnya gimana, karena jadi serba nggak enak sama dua-duanya. Kepengenan saya pun lebih baik saya kesampingkan daripada nambahin susah nemu solusinya.
Lalu, di saat saya sedang menghela nafas karena menahan keluhan ada telepon dari mbak sepupu di Jawa sana yang ngabari kalau mau datang ke Bali. Basa-basi mbak nanya kapan nikah, ternyata dia belum dikasihtau kalau kemaren saya baru aja lamaran. Walhasil jadi nanyain tanggal dan persiapannya. Mbak bilang gini:
"Nggak usah pusing, kalau persiapan nikah itu pasti bakal banyak yang bantu, tapi yang jangan dilupa persiapan setelah menikah nanti. Kalau udah nikah nanti apa-apa cuma dihadepin berdua."Saya mengiyakan dan termenung. Betul juga kata Mbak. Yang paling penting ya persiapan setelah menikah nanti, pasti jauh lebih berat karena akan ada pilihan-pilihan yang juga jauh lebih sulit.
"Banyak-banyakin berdoa dek."Begitu pesannya. Saya jadi malu, betul juga, apakah saya sudah menyiapkan mental dengan baik? Sudahkah saya banyak-banyak berdoa? Saya rasa belum. Terimakasih telah mengingatkan mbak. Semoga persiapannya lancar dan hidup baru saya dan Kangmas nanti juga dimudahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar