Bismillahirrahmanirrahim,
Seringkali pasangan yang mulai serius untuk menikah bingung untuk memulai prosesnya dari mana, terutama bagian bicara orang tua si perempuan. Rasa gugup pasti menghantui, tapi proses memang harus terjadi. Harus! Tidak bisa tidak. Ibarat mau sowan (bertamu) ke rumah orang kalau pintunya gak diketuk ya gak akan dibuka pintunya.
Gugup tidak hanya terjadi pada laki-laki yang mau 'meminta' tetapi juga si perempuan. Saya pribadi waktu itu bingung mau ngomong ke Ibuk gimana. Rasanya saya masih putri kecil yang dianter sekolah, eh sekarang bilang ada laki-laki yang mau nikah sama anaknya, semacam bahan obrolan yang terlalu dewasa buat saya. Tetapi akhirnya saya memberanikan bicara, dengan sedikit basa basi haha hihi di awal pembicaraan (yang waktu itu lewat telepon), ternyata ibuk saya menangkap keanehan saya dan menanyakan sebenernya mau ngomong apa sih ini anak. Hahaha. Akhirnya saya bilang deh ke Ibuk, bahwa Kangmas-lah yang jadi calon pelaku pengambil alih anaknya.
Setelah beberapa kali pembicaraan, akhirnya Ibuk mengharapkan si calon pelaku itu datang ke rumah. Kami semua setuju, saat pulang ke Jogja Januari nanti, kangmas akan main ke rumah. Sampai akhirnya waktu itu tiba dan Kangmas mengungkapkan maksudnya ke kedua orang tua saya. Hasil pembicaraan masih mentah saat itu, tapi saya lega satu tahap terlalui. Untuk selanjutnya, saya menginginkan Bapak Ibuk kangmas bisa datang ke rumah agar bisa saling mengenal Bapak Ibuk saya. Waktu itu kangmas masih agak gimanaaa gitu, tapi sayanya ngotot juga. Pokoknya saya pingin Bapak Ibuk bisa kenalan sama Bapak Ibuknya kangmas. Biar enak aja gitu nanti-nantinya. Hihi. Jadi kalau saya ada pembicaraan ke Bapak Ibuknya kangmas, Bapak Ibuk saya tuh posisinya udah kenal gitu lo.
Akhirnya seusai melewati negosiasi dengan Kangmas, kepulangan kami ke Jogja saat liburan Nyepi di Bulan Maret ingin kami manfaatkan dengan perkenalan antar kedua keluarga. Ibuk saya yang sok mau terlihat simpel, eh ribet juga nyiapin ini itu, tapi wajar aja sih..ibuk-ibuk dan posisinya jadi tuan rumah itu udah pasti keluar ribetnya. Tapi Alhamdulillah semua berjalan lancar. Bapak Ibuk Kangmas datang dengan sangat tepat waktu sampai membuat kami tuan rumah yang daritadi ribet nyiap-nyiapin jadi kelabakan sendiri. Maklum, untuk acara ini Ibuk saya sengaja tidak minta bantuan bude yang sering bantu-bantu. Jadilah saya belum sempat bersolek muncul apa adanya, hahaha.
Di acara perkenalan itu ya, Bapak kangmas mengutarakan maksudnya untuk 'meminta' saya. Selain itu ya lanjut ngobrol-ngobrol saling mengenal tentang keluarga, daerah asal, pekerjaan dan topik-topik yang secara umum dibicarakan oleh orang yang baru saling mengenal. Setelah itu dilanjutkan acara makan bersama, masakan Rawon ala Ibuk saya. Syukurlah semua lancar, dan saya merasa lega karena akhirnya kedua orangtua saling bertemu. Kalau udah gini kan enak..mau ngobrolin soal nikah jadi lebih terbuka.
Buah manis silaturahim. Tak Kenal Maka Ta'aruf :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pengalaman Sunat atau Khitan Anak
Bismillahirrahmanirrahim, Kalau mau diberi judul rekomendasi sunat anak rasanya kurang pas juga karena saya baru pertama kali khitan anak ...
-
Sebenarnya pengalaman hamil dan melahirkan pertama kali sudah sekitar dua tahun lalu. Tapi nggak ada salahnya kan berbagi pengalaman dan in...
-
Bismillahirrahmanirrahim, Sampai juga ke part 3 untuk review dari semua persiapan dan hasil akhirnya. Kali ini saya akan bahas soal vendor...
-
Menemukan tulisan di notepad tahun 2009, tentang dia. kadang masih sulit dimengerti.. masih juga serin bertanya-tanya mengapa sampai sekar...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar