Jumat, 27 Juni 2014

Setelah PMS apakah lalu PWS?

Bismillahirrahmanirrahim,
Selamat siang semua!

Sebagai seorang perempuan tentu saya mengalami perasaan-perasaan aneh ketika membayangkan akan menikah. Bahkan perasaan itu sudah ada jauh sebelum saya dan kangmas memutuskan untuk menikah. Yaitu saat saya datang ke acara keluarganya kangmas dan waktu itu disambut oleh Bapaknya yang sangat di luar dugaan saya, saya sampai speechless. Berkali-kali saya ceritakan ini tapi memang begitulah perasaan saya waktu itu. Bukan tidak senang tetapi hanya tersadar, umur saya memang sudah pantas kalau suatu hari nanti menikah. Tapi yang membuat saya galau saat itu juga adalah..bagaimana ketika menjadi anak dari Bapak Ibuk mertua saya nanti, dan tidak lagi menjadi tanggungjawab Bapak Ibuk saya melainkan berpindah ke suami saya. Apakah saya siap..?

Tentu perasaan itu wajar. Katanya hal itu biasa disebut dengan Prewedding Syndrome (PWS). Wah apalagi nih? Perempuan sudah cukup aneh dan merepotkan ketika PMS ini masih ada aja PWS.

PWS tentu tak hanya dialami oleh perempuan tetapi bisa juga terjadi pada laki-laki karena tanggung jawab mereka akan semakin besar nantinya setelah berkeluarga. Kalau bagi saya sebenernya PWS ini yaa setipe-tipe perasaan yang mampir ketika saya akan menghadapi hal baru seperti sekolah baru, pekerjaan baru, suasana baru, yaaah..semacam nervous gitu lah. Kadang jika nervous itu tak muncul secara alami maka akan sengaja saya buat. Aneh ya? Tapi menurut saya itu adalah treatment ampuh bagi psikologis saya agar saya selalu prepare for the worst. Jadi ketika pada kenyataannya saya mengalami hal yang lebih baik dari ekspektasi saya, maka saya akan merasa senang tetapi ketika yang terjadi adalah kebalikannya, saya tidak akan terlalu kaget atau bersedih.

Nah soal menyoal persiapan pernikahan ini, yang sedang sering menghinggapi perasaan saya lebih pada pikiran-pikiran bagaimana setelah menikah nanti. Saya sadar semua tak akan sama seperti sebelum menikah. Saya tak lagi sendiri, saya tak lagi seenak hati mau ke mana dan ngapain karena saya akan jadi istri yang membawa kehormatan suami saya. Selain itu, nanti ketika saya sudah menjadi istri, definisi "Pulang" bukanlah lagi ke orang tua tetapi ke suami. Rumah yang sedari kecil hingga dewasa melindungi saya dari rasa sedih dan membuat saya merasa tentram. Kadang saya merasa agak sedih karenanya. Saya akan berpindah rumah, maka saya bertekad untuk menjadikan rumah kami nanti "rumah" yang nyaman untuk anak-anak kami selalu "Pulang" sama halnya dengani rumah orang tua kami.

Insya Allah, saya tak ragu pada kangmas sebagai calon suami saya. Soal rezeki sudah ada Allah yang atur, bahkan saya pernah membaca ini:
Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡”. (HR. Hakim dan Abu Dawud)
“Carilah rezeki dengan menikah”. (HR. Ad-Dailami)
Jadi insya Allah kami percaya bahwa kalau niatnya baik, Allah pasti akan membantu.

Kami memang sama-sama tak sempurna, mungkin jauh dari sempurna, tetapi kami ingin bersama-sama menjalankan ibadah ini. Saling memilih untuk saling mengingatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengalaman Sunat atau Khitan Anak

Bismillahirrahmanirrahim, Kalau mau diberi judul rekomendasi sunat anak rasanya kurang pas juga karena saya baru pertama kali khitan anak ...