Bonsoir!
Memutuskan menikah bukanlah suatu yang mudah. Saya seringkali mendengar dari beberapa teman yang belum maupun sudah menikah berkata,
"Menikah itu tidak seindah yang dibayangkan"
"Dibanding senengnya, lebih banyak menderitanya!"
"Udah deh, gak usah nikah! Hahahaha"
"Iya nih, ga enak, ga sebebas dulu.."
"Aku sih udah enjoy sendiri, jadi soal nikah nanti ajalah"Masih banyak lagi yang pernah saya dengar. Kadang itu menjadikan kegugupan tersendiri, tetapi ternyata bagi saya dorongan untuk segera menikah itu lebih besar dibanding untuk menundanya. Kalau kata seorang teman, "Syetan itu akan menggunakan berbagai cara agar kamu tidak menikah." Cemen dong kalau sampai kalah sama bisikan setan. Na'udzubillahi mindzalik.
Saya setuju kok dengan menyegerakan menikah. Tetapi memang ada permintaan orang tua agar saya menyelesaikan kuliah dulu baru memikirkan menikah. Maka selulus kuliah dan sudah bekerja, kegalauan itu luar biasa hebatnya. Saya berpikir, apa lagi yang harus ditunggu? saya dan kangmas sudah sama-sama lulus dan bekerja, lalu apalagi? Pikiran itu mengganggu saya sampai akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya pada kangmas, "Sebenernya apa lagi yang kita tunggu? Kapan kita menikah?" Kangmas menanggapinya dengan bercanda, mungkin agak aneh baginya karena saya tiba-tiba bertanya. Tetapi ketika ia tahu saya serius, ia menjawabnya. Dan jawaban itu meskipun agak membuat saya sedih saat itu tetapi membuat saya meyakinkan diri untuk bersabar. Saya bertanya maka saya dapat jawabannya, cukup kan?
Setelah itu, paling tidak saya lebih lega karena akhirnya bertanya-dijawab-dan tahu bahwa mungkin menikah bukanlah hal yang cukup dekat saat itu. Apakah kegalauan itu hilang setelah bertanya? Tentu tidak. Hahaha. Kegalauan itu tentu terus berlanjut hanya saja dalam tingkat yang lebih rendah dan mampu saya kendalikan. Saya alihkan itu ke dalam doa-doa saya.
Di lain sisi, tentu saja Kangmas bukan tidak mungkin memikirkan hal yang sama. Hanya saja dia lebih banyak diam tak bercerita. Tentu memutuskan untuk menikah jauh lebih sulit baginya karena dialah yang akan menjadi pemimpin. Tentu tidak mudah karena ada banyak hal yang ia pikirkan baik keluarganya maupun keluarga yang ia bangun sendiri nanti, tentang tanggung jawabnya sebagai anak pertama, anak laki-laki, sebagai suami dan ayah kelak. Tentu saja itu saja itu tak semudah menentukan akan makan malam pake lauk apa. Kadang sesekali ia bercerita tentang keraguannya, apakah mampu menghidupi istri dan anaknya nanti dan saya hanya bisa menjawab, tak perlu khawatir, tak perlu jauh melihat tetapi lihatlah orang tua kita yang mungkin pendapatannya biasa saja nyatanya mampu menyekolahkan dan menghidupi kita dengan layak.
Saya pernah melihat, penjual gorengan yang berjualan ditemani anak dan istrinya. Saya tahu penghasilannya tak seberapa, tetapi mereka tampak begitu akur dan bercanda. Saya juga pernah lihat, tukang gali pasir di dekat kampung saya, yang rumahnya hanya sepetak kotor dan kumuh, yang kadang sang suami tidur di bawah mobil pick-up tetapi ia tampak begitu menikmati hidup dengan anak-anak dan istrinya serta anjing-anjing yang ia pelihara.
Jadi kebahagiaan itu sederhana saja bukan? Dan menurut saya, menikah adalah salah satu cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Masih berpikir nanti untuk menikah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar