Bismillahirrahmanirrahim,
Telepon genggam tiba-tiba berbunyi sekitar 20.30 WITA, ternyata telepon dari sang Ibu dari kangmas. Dalam hati bertanya, ada apa yaa kok sampe ditelpon. Tanpa ragu saya angkat. Singkat cerita saya setengah kaget, setengah bingung, setengah ga percaya, sang Ibu menyatakan keseriusan anak laki-lakinya untuk mengajak saya menikah dan menanyakan kesediaan saya. Mak jedher! antara senang tapi bingung saya mau jawab apa. Ibu juga menanyakan tentang kondisi saya yang masih terikat pernyataan untuk tidak menikah selama setahun sejak saya mulai bekerja, apakah itu tidak menjadi masalah? Ibu hanya tidak ingin merepotkan saya.
Saat itu juga, pikiran saya langsung bekerja, entah saya lebih berat menggunakan logika atau perasaan saya. Tapi langsung saya katakan saat itu juga bahwa buat saya pribadi saya tak ingin pekerjaan menjadi halangan, rejeki sudah ada yang ngatur, kalau niatnya ibadah insya Allah ke depannya juga baik. Tapi saya juga katakan kalau saya juga perlu bertanya pada Bapak-Ibuk saya. Setelah percakapan itu, saya masih beku ga percaya. Kangmas ga cerita apa-apa sebelumnya, jadi ini agak mengagetkan saya. Hahahah.
Setelah bertanya ke Bapak-Ibuk sempat terdengar nada yang berat. Bukan tak setuju dengan kangmas tetapi Ibuk saya memikirkan pekerjaan saya, melihat saya berjuang memperoleh kerjaan lalu baru sebentar saya ingin menikah. Saya yakinkan ke Ibuk saya bahwa saya tak keberatan, rejeki sudah ada yang ngatur.
Meskipun rencana pernikahan itu sempat mental dan mentah lagi tetapi akhirnya Ibuk saya luluh, Alhamdulillah dengan ijin Allah tentunya. Kata Ibuk, saya sudah cukup usia untuk menikah, sudah menyelesaikan studi sarjana saya, jadi sudah tugas orang tua untuk menikahkan kalau memang anak sudah meminta.
Alhamdulillahnya..Ibuk saya adalah yang paling bersemangat mengurus segala persiapan. Saya senang karena bisa dibantu Ibuk, maklum posisi saya di Bali agak menyulitkan saya untuk mengurus semuanya sendiri. Saking semangatnya, idenya suka gonta-ganti, errrrrr.
Setiap keputusan pasti ada resikonya, dan insya Allah..saya siap menghadapi resikonya. I'll take the risk! I Will!
Jumat, 27 Juni 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pengalaman Sunat atau Khitan Anak
Bismillahirrahmanirrahim, Kalau mau diberi judul rekomendasi sunat anak rasanya kurang pas juga karena saya baru pertama kali khitan anak ...
-
Sebenarnya pengalaman hamil dan melahirkan pertama kali sudah sekitar dua tahun lalu. Tapi nggak ada salahnya kan berbagi pengalaman dan in...
-
Bismillahirrahmanirrahim, Sampai juga ke part 3 untuk review dari semua persiapan dan hasil akhirnya. Kali ini saya akan bahas soal vendor...
-
Menemukan tulisan di notepad tahun 2009, tentang dia. kadang masih sulit dimengerti.. masih juga serin bertanya-tanya mengapa sampai sekar...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar