Menemukan tulisan di notepad tahun 2009, tentang dia.
kadang masih sulit dimengerti..
masih juga serin bertanya-tanya
mengapa sampai sekarang ku masih bersama dirinya
apa yang bisa menyebabkan semua ini
untukku..
aku masih membutuhkannya
aku masih takut kehilangan dirinya
aku masih menyayanginya dengan segenap hatiku
bukan dari serpihan hati..
mengapa cemburu masih begitu membara kalau bukan karena
aku masih sangat peduli dengannya
lalu apa dari dirinya yang membuatnya begitu berharga
entah..
tapi memang dirinya yang telah menyentuh hatiku
sampai seperti ini..
sampai sedalam ini..
tapi ..
cukup peduli tak cukup untuknya
itulah yang seringkali membuatku merasa tak mampu
tak mampu membuatnya bahagia
itulah yang seringkali membuatku iri dengan orang-orang yang
mampu membuatnya senang
aku cemburu..
karena aku tak mampu membuatnya sesenang itu bersamaku.
sebenarnya bukanlah muluk yang kuharapkan
tapi cukup membuatmu merasa senang bersamaku
itu saja cukup..
tapi itu sulit
sulit sekali..
Sabtu, 28 Juni 2014
Saatnya Kenalan Yuk
Bismillahirrahmanirrahim,
Seringkali pasangan yang mulai serius untuk menikah bingung untuk memulai prosesnya dari mana, terutama bagian bicara orang tua si perempuan. Rasa gugup pasti menghantui, tapi proses memang harus terjadi. Harus! Tidak bisa tidak. Ibarat mau sowan (bertamu) ke rumah orang kalau pintunya gak diketuk ya gak akan dibuka pintunya.
Gugup tidak hanya terjadi pada laki-laki yang mau 'meminta' tetapi juga si perempuan. Saya pribadi waktu itu bingung mau ngomong ke Ibuk gimana. Rasanya saya masih putri kecil yang dianter sekolah, eh sekarang bilang ada laki-laki yang mau nikah sama anaknya, semacam bahan obrolan yang terlalu dewasa buat saya. Tetapi akhirnya saya memberanikan bicara, dengan sedikit basa basi haha hihi di awal pembicaraan (yang waktu itu lewat telepon), ternyata ibuk saya menangkap keanehan saya dan menanyakan sebenernya mau ngomong apa sih ini anak. Hahaha. Akhirnya saya bilang deh ke Ibuk, bahwa Kangmas-lah yang jadi calon pelaku pengambil alih anaknya.
Setelah beberapa kali pembicaraan, akhirnya Ibuk mengharapkan si calon pelaku itu datang ke rumah. Kami semua setuju, saat pulang ke Jogja Januari nanti, kangmas akan main ke rumah. Sampai akhirnya waktu itu tiba dan Kangmas mengungkapkan maksudnya ke kedua orang tua saya. Hasil pembicaraan masih mentah saat itu, tapi saya lega satu tahap terlalui. Untuk selanjutnya, saya menginginkan Bapak Ibuk kangmas bisa datang ke rumah agar bisa saling mengenal Bapak Ibuk saya. Waktu itu kangmas masih agak gimanaaa gitu, tapi sayanya ngotot juga. Pokoknya saya pingin Bapak Ibuk bisa kenalan sama Bapak Ibuknya kangmas. Biar enak aja gitu nanti-nantinya. Hihi. Jadi kalau saya ada pembicaraan ke Bapak Ibuknya kangmas, Bapak Ibuk saya tuh posisinya udah kenal gitu lo.
Akhirnya seusai melewati negosiasi dengan Kangmas, kepulangan kami ke Jogja saat liburan Nyepi di Bulan Maret ingin kami manfaatkan dengan perkenalan antar kedua keluarga. Ibuk saya yang sok mau terlihat simpel, eh ribet juga nyiapin ini itu, tapi wajar aja sih..ibuk-ibuk dan posisinya jadi tuan rumah itu udah pasti keluar ribetnya. Tapi Alhamdulillah semua berjalan lancar. Bapak Ibuk Kangmas datang dengan sangat tepat waktu sampai membuat kami tuan rumah yang daritadi ribet nyiap-nyiapin jadi kelabakan sendiri. Maklum, untuk acara ini Ibuk saya sengaja tidak minta bantuan bude yang sering bantu-bantu. Jadilah saya belum sempat bersolek muncul apa adanya, hahaha.
Di acara perkenalan itu ya, Bapak kangmas mengutarakan maksudnya untuk 'meminta' saya. Selain itu ya lanjut ngobrol-ngobrol saling mengenal tentang keluarga, daerah asal, pekerjaan dan topik-topik yang secara umum dibicarakan oleh orang yang baru saling mengenal. Setelah itu dilanjutkan acara makan bersama, masakan Rawon ala Ibuk saya. Syukurlah semua lancar, dan saya merasa lega karena akhirnya kedua orangtua saling bertemu. Kalau udah gini kan enak..mau ngobrolin soal nikah jadi lebih terbuka.
Buah manis silaturahim. Tak Kenal Maka Ta'aruf :)
Seringkali pasangan yang mulai serius untuk menikah bingung untuk memulai prosesnya dari mana, terutama bagian bicara orang tua si perempuan. Rasa gugup pasti menghantui, tapi proses memang harus terjadi. Harus! Tidak bisa tidak. Ibarat mau sowan (bertamu) ke rumah orang kalau pintunya gak diketuk ya gak akan dibuka pintunya.
Gugup tidak hanya terjadi pada laki-laki yang mau 'meminta' tetapi juga si perempuan. Saya pribadi waktu itu bingung mau ngomong ke Ibuk gimana. Rasanya saya masih putri kecil yang dianter sekolah, eh sekarang bilang ada laki-laki yang mau nikah sama anaknya, semacam bahan obrolan yang terlalu dewasa buat saya. Tetapi akhirnya saya memberanikan bicara, dengan sedikit basa basi haha hihi di awal pembicaraan (yang waktu itu lewat telepon), ternyata ibuk saya menangkap keanehan saya dan menanyakan sebenernya mau ngomong apa sih ini anak. Hahaha. Akhirnya saya bilang deh ke Ibuk, bahwa Kangmas-lah yang jadi calon pelaku pengambil alih anaknya.
Setelah beberapa kali pembicaraan, akhirnya Ibuk mengharapkan si calon pelaku itu datang ke rumah. Kami semua setuju, saat pulang ke Jogja Januari nanti, kangmas akan main ke rumah. Sampai akhirnya waktu itu tiba dan Kangmas mengungkapkan maksudnya ke kedua orang tua saya. Hasil pembicaraan masih mentah saat itu, tapi saya lega satu tahap terlalui. Untuk selanjutnya, saya menginginkan Bapak Ibuk kangmas bisa datang ke rumah agar bisa saling mengenal Bapak Ibuk saya. Waktu itu kangmas masih agak gimanaaa gitu, tapi sayanya ngotot juga. Pokoknya saya pingin Bapak Ibuk bisa kenalan sama Bapak Ibuknya kangmas. Biar enak aja gitu nanti-nantinya. Hihi. Jadi kalau saya ada pembicaraan ke Bapak Ibuknya kangmas, Bapak Ibuk saya tuh posisinya udah kenal gitu lo.
Akhirnya seusai melewati negosiasi dengan Kangmas, kepulangan kami ke Jogja saat liburan Nyepi di Bulan Maret ingin kami manfaatkan dengan perkenalan antar kedua keluarga. Ibuk saya yang sok mau terlihat simpel, eh ribet juga nyiapin ini itu, tapi wajar aja sih..ibuk-ibuk dan posisinya jadi tuan rumah itu udah pasti keluar ribetnya. Tapi Alhamdulillah semua berjalan lancar. Bapak Ibuk Kangmas datang dengan sangat tepat waktu sampai membuat kami tuan rumah yang daritadi ribet nyiap-nyiapin jadi kelabakan sendiri. Maklum, untuk acara ini Ibuk saya sengaja tidak minta bantuan bude yang sering bantu-bantu. Jadilah saya belum sempat bersolek muncul apa adanya, hahaha.
Di acara perkenalan itu ya, Bapak kangmas mengutarakan maksudnya untuk 'meminta' saya. Selain itu ya lanjut ngobrol-ngobrol saling mengenal tentang keluarga, daerah asal, pekerjaan dan topik-topik yang secara umum dibicarakan oleh orang yang baru saling mengenal. Setelah itu dilanjutkan acara makan bersama, masakan Rawon ala Ibuk saya. Syukurlah semua lancar, dan saya merasa lega karena akhirnya kedua orangtua saling bertemu. Kalau udah gini kan enak..mau ngobrolin soal nikah jadi lebih terbuka.
Buah manis silaturahim. Tak Kenal Maka Ta'aruf :)
Jumat, 27 Juni 2014
Survey Dekor dan Rias Pengantin
Bismillahirrahmanirrahim,
Sejauh ini, vendor yang saya survey alias saya datangi langsung adalah vendor yang sudah saya keruk informasinya lewat website mereka. Kalau saya cocok ya saya datangi, kalau enggak ya lupakan. Jadilah saya sudah tahu tempat mana saja yang saya harus datangi.
Menjelang berakhirnya waktu saya di Jogja, saya dan Ibuk pergi ke salah satu vendor yang rencananya akan jadi calon vendor yang mengurus dekorasi gedung dan rias pengantin. Di sana kami lihat-lihat baju. Ada baju untuk pengantin, karena saya pakai jilbab jadilah pilihannya ada kebaya atau gamis. Tapi kata si embak vendor itu, kalau misal nggak ada yang cocok bisa jahitin tapi pakai biaya sewa yang lebih mahal, jadi bajunya dibikin buat pengantinnya tapi abis itu jadi hak milik vendor. Mungkin ini solusi buat calon manten yang kepikiran pengen jahit baju sendiri tapi takut sayang karena sekali pakai aja. Selain kebaya, gamis, juga ada jenis bridal yang selera internasional gituh. Ada juga baju-baju buat among tamu dan penjaga buku tamu.
Soal dekorasi, saya memang cocok sama model-model dekorasi vendor ini makanya saya pilih rias di vendor ini sekalian. hehe, biar ngirit pikiran. Lalu kenapa saya tidak pilih paket yang disediakna vendor ini? Karena menurut saya sementara ini memang belum perlu ambil paket. Ibuk saya apalagi, pengennya bisa milih satu-satu vendor apa yang mau dipakai. Yahahaha...
Semoga lancarrr deh semuanya!
Sejauh ini, vendor yang saya survey alias saya datangi langsung adalah vendor yang sudah saya keruk informasinya lewat website mereka. Kalau saya cocok ya saya datangi, kalau enggak ya lupakan. Jadilah saya sudah tahu tempat mana saja yang saya harus datangi.
Menjelang berakhirnya waktu saya di Jogja, saya dan Ibuk pergi ke salah satu vendor yang rencananya akan jadi calon vendor yang mengurus dekorasi gedung dan rias pengantin. Di sana kami lihat-lihat baju. Ada baju untuk pengantin, karena saya pakai jilbab jadilah pilihannya ada kebaya atau gamis. Tapi kata si embak vendor itu, kalau misal nggak ada yang cocok bisa jahitin tapi pakai biaya sewa yang lebih mahal, jadi bajunya dibikin buat pengantinnya tapi abis itu jadi hak milik vendor. Mungkin ini solusi buat calon manten yang kepikiran pengen jahit baju sendiri tapi takut sayang karena sekali pakai aja. Selain kebaya, gamis, juga ada jenis bridal yang selera internasional gituh. Ada juga baju-baju buat among tamu dan penjaga buku tamu.
Soal dekorasi, saya memang cocok sama model-model dekorasi vendor ini makanya saya pilih rias di vendor ini sekalian. hehe, biar ngirit pikiran. Lalu kenapa saya tidak pilih paket yang disediakna vendor ini? Karena menurut saya sementara ini memang belum perlu ambil paket. Ibuk saya apalagi, pengennya bisa milih satu-satu vendor apa yang mau dipakai. Yahahaha...
Semoga lancarrr deh semuanya!
Survey Undangan
Bismillahirrahmanirrahim,
Lagi-lagi memanfaatkan kepulangan saya ke Jogja. Saya memberanikan diri untuk ke vendor undangan. Sudah jauh-jauh hari sebelumnya, hasil cari-cari ketemulah yang sreg sementara gawean Empat-K. Sebenernya vendor ini enggak asing lagi. Dari jaman SD saya udah tahu iklannya di koran KR sama saya juga pernah liat langsung undangannya. Yang saya taksir dari Empat-K adalah karikaturnya. Lucu!
Jadilah Empat-K vendor pertama yang saya datangi. Agak keder juga survey sendirian kayak anak ilang, tapi kalau gak diberaniin gak akan kebayang apa-apa nanti. Sejauh saya lihat-lihat sih saya tetep suka sama contoh undangan yang ada di web dan saya liat langsung di sana. Bentuk undangannya karikatur pop-up gitu.
Vendor kedua yang saya datengin adalah di sekitar Jalan Magelang. Sebelumnya saya tahu vendor ini dari facebook dan saya naksir sama contoh-contoh undangannya. Unik-unik gitu tapi nggak norak. Itu yang paling penting buat saya. Kan ada tuh yang undangannya kelewat neko-neko. Dari vendor satu ini saya juga ada satu yang paling cocok seperti yang saya incer waktu liat di foto facebook. Waktu saya konsultasi ke kangmas, dianya setuju ajah.hihi..nah sementara sih udah kepegang satu yang jadi model undangan kita nanti. Rencananya sih waktu pulang lebaran nanti kami mau mantepin lagi mau pilih model yang gimana dan juga dateng ke vendor berdua. Yosh!
Lagi-lagi memanfaatkan kepulangan saya ke Jogja. Saya memberanikan diri untuk ke vendor undangan. Sudah jauh-jauh hari sebelumnya, hasil cari-cari ketemulah yang sreg sementara gawean Empat-K. Sebenernya vendor ini enggak asing lagi. Dari jaman SD saya udah tahu iklannya di koran KR sama saya juga pernah liat langsung undangannya. Yang saya taksir dari Empat-K adalah karikaturnya. Lucu!
Jadilah Empat-K vendor pertama yang saya datangi. Agak keder juga survey sendirian kayak anak ilang, tapi kalau gak diberaniin gak akan kebayang apa-apa nanti. Sejauh saya lihat-lihat sih saya tetep suka sama contoh undangan yang ada di web dan saya liat langsung di sana. Bentuk undangannya karikatur pop-up gitu.
Vendor kedua yang saya datengin adalah di sekitar Jalan Magelang. Sebelumnya saya tahu vendor ini dari facebook dan saya naksir sama contoh-contoh undangannya. Unik-unik gitu tapi nggak norak. Itu yang paling penting buat saya. Kan ada tuh yang undangannya kelewat neko-neko. Dari vendor satu ini saya juga ada satu yang paling cocok seperti yang saya incer waktu liat di foto facebook. Waktu saya konsultasi ke kangmas, dianya setuju ajah.hihi..nah sementara sih udah kepegang satu yang jadi model undangan kita nanti. Rencananya sih waktu pulang lebaran nanti kami mau mantepin lagi mau pilih model yang gimana dan juga dateng ke vendor berdua. Yosh!
Survey Gedung
Bismillahirrahmanirrahim,
Karena masih belum punya pengalaman, maka yang sering saya lakukan adalah browsing segala macam tentang persiapan pernikahan. Jadi kalo lagi boker trus kepikir abis itu langsung nyalaun laptop, kalo lagi tidur-tiduran langsung sarching di hape, kalo lagi nyuci ya ditinggalin nyucinya buat cari-cari info di google. Pokoknya di kepala terlintas pengen cari tau apa langsung saya cari ndak keburu lupa! hehehe.
Tapiii...gak semua hal bisa di-googling broooh, ada hal yang kita perlu tanya orang yang lebih tua atau yang udah ngalami langsung. Kangmas saya terutama sangat mendorong saya untuk bertanya ke temen-temen yang udah perngalaman. Meskipun saya sering ngeyel (maaf ya mas, hehe) tapi akhirnya saya lakukan juga kok. Kami berdua sama-sama cari tahu.
Karena kami sama-sama jauh dari Jogja, jadilah kesempatan kami untuk survey langsung sangat terbatas. Maka ketika saya pulang ke Jogja, saya manfaatkan hal itu untuk mencari tahu langsung. Nasib cuma sendiri, jadilah saya muterin Jogja dari ujung ke ujung. Hal pertama yang saya datangi adalah Aula Ahmad Dahlan yang direncanakan sebagai gedung walimah nanti. Meskipun sudah sering ke UMY tapi saya lupa-lupa ingat penampakan gedungnya seperti apa. Jadi pada kesempatan pertama, saya foto-foto gedungnya dan saya kirim ke Kangmas. Penilaian saya saat itu sih gedungnya lumayan luas, walaupun langit-langit betonnya menunjukkan kesan yang pendek tapi aslinya tinggi juga kok. Lalu di kesempatan kedua, saya coba untuk bisa ke kantornya langsung. Karena saya kurang tahu ke mana harus menghubungi pengurus gedung maka saya dateng langsung aja ke rektorat, setelah nanya Pak Satpam kemudian diarahkan ke gedung Sportorium karena ternyata soal penyewaannya jadi satu di Kantor Sportorium.
Nanya-nanya sebentar sama pengurusnya saya dikasih satu bendel kertas yang berisi tentang harga gedung, fasilitas, fasilitas lain apa saja yang dapat disewa, dan ketentuan-ketentuan lainnya. Ternyata beda lho sama yang ada di web. Jadi itu keuntungannya kalau tanya langsung. Di kantor itu juga ada banyak kartu-kartu nama sama pamflet tentang catering, dekor, dll kan lumayan bisa buat referensi. Setelah pulang dan ngobrol sama Bapak-Ibuk, kita mantepin tanggal dan minta tolong Bapak besoknya buat bookingin gedungnya. Alhamdulillah..
Karena masih belum punya pengalaman, maka yang sering saya lakukan adalah browsing segala macam tentang persiapan pernikahan. Jadi kalo lagi boker trus kepikir abis itu langsung nyalaun laptop, kalo lagi tidur-tiduran langsung sarching di hape, kalo lagi nyuci ya ditinggalin nyucinya buat cari-cari info di google. Pokoknya di kepala terlintas pengen cari tau apa langsung saya cari ndak keburu lupa! hehehe.
Tapiii...gak semua hal bisa di-googling broooh, ada hal yang kita perlu tanya orang yang lebih tua atau yang udah ngalami langsung. Kangmas saya terutama sangat mendorong saya untuk bertanya ke temen-temen yang udah perngalaman. Meskipun saya sering ngeyel (maaf ya mas, hehe) tapi akhirnya saya lakukan juga kok. Kami berdua sama-sama cari tahu.
Karena kami sama-sama jauh dari Jogja, jadilah kesempatan kami untuk survey langsung sangat terbatas. Maka ketika saya pulang ke Jogja, saya manfaatkan hal itu untuk mencari tahu langsung. Nasib cuma sendiri, jadilah saya muterin Jogja dari ujung ke ujung. Hal pertama yang saya datangi adalah Aula Ahmad Dahlan yang direncanakan sebagai gedung walimah nanti. Meskipun sudah sering ke UMY tapi saya lupa-lupa ingat penampakan gedungnya seperti apa. Jadi pada kesempatan pertama, saya foto-foto gedungnya dan saya kirim ke Kangmas. Penilaian saya saat itu sih gedungnya lumayan luas, walaupun langit-langit betonnya menunjukkan kesan yang pendek tapi aslinya tinggi juga kok. Lalu di kesempatan kedua, saya coba untuk bisa ke kantornya langsung. Karena saya kurang tahu ke mana harus menghubungi pengurus gedung maka saya dateng langsung aja ke rektorat, setelah nanya Pak Satpam kemudian diarahkan ke gedung Sportorium karena ternyata soal penyewaannya jadi satu di Kantor Sportorium.
Nanya-nanya sebentar sama pengurusnya saya dikasih satu bendel kertas yang berisi tentang harga gedung, fasilitas, fasilitas lain apa saja yang dapat disewa, dan ketentuan-ketentuan lainnya. Ternyata beda lho sama yang ada di web. Jadi itu keuntungannya kalau tanya langsung. Di kantor itu juga ada banyak kartu-kartu nama sama pamflet tentang catering, dekor, dll kan lumayan bisa buat referensi. Setelah pulang dan ngobrol sama Bapak-Ibuk, kita mantepin tanggal dan minta tolong Bapak besoknya buat bookingin gedungnya. Alhamdulillah..
I will!
Bismillahirrahmanirrahim,
Telepon genggam tiba-tiba berbunyi sekitar 20.30 WITA, ternyata telepon dari sang Ibu dari kangmas. Dalam hati bertanya, ada apa yaa kok sampe ditelpon. Tanpa ragu saya angkat. Singkat cerita saya setengah kaget, setengah bingung, setengah ga percaya, sang Ibu menyatakan keseriusan anak laki-lakinya untuk mengajak saya menikah dan menanyakan kesediaan saya. Mak jedher! antara senang tapi bingung saya mau jawab apa. Ibu juga menanyakan tentang kondisi saya yang masih terikat pernyataan untuk tidak menikah selama setahun sejak saya mulai bekerja, apakah itu tidak menjadi masalah? Ibu hanya tidak ingin merepotkan saya.
Saat itu juga, pikiran saya langsung bekerja, entah saya lebih berat menggunakan logika atau perasaan saya. Tapi langsung saya katakan saat itu juga bahwa buat saya pribadi saya tak ingin pekerjaan menjadi halangan, rejeki sudah ada yang ngatur, kalau niatnya ibadah insya Allah ke depannya juga baik. Tapi saya juga katakan kalau saya juga perlu bertanya pada Bapak-Ibuk saya. Setelah percakapan itu, saya masih beku ga percaya. Kangmas ga cerita apa-apa sebelumnya, jadi ini agak mengagetkan saya. Hahahah.
Setelah bertanya ke Bapak-Ibuk sempat terdengar nada yang berat. Bukan tak setuju dengan kangmas tetapi Ibuk saya memikirkan pekerjaan saya, melihat saya berjuang memperoleh kerjaan lalu baru sebentar saya ingin menikah. Saya yakinkan ke Ibuk saya bahwa saya tak keberatan, rejeki sudah ada yang ngatur.
Meskipun rencana pernikahan itu sempat mental dan mentah lagi tetapi akhirnya Ibuk saya luluh, Alhamdulillah dengan ijin Allah tentunya. Kata Ibuk, saya sudah cukup usia untuk menikah, sudah menyelesaikan studi sarjana saya, jadi sudah tugas orang tua untuk menikahkan kalau memang anak sudah meminta.
Alhamdulillahnya..Ibuk saya adalah yang paling bersemangat mengurus segala persiapan. Saya senang karena bisa dibantu Ibuk, maklum posisi saya di Bali agak menyulitkan saya untuk mengurus semuanya sendiri. Saking semangatnya, idenya suka gonta-ganti, errrrrr.
Setiap keputusan pasti ada resikonya, dan insya Allah..saya siap menghadapi resikonya. I'll take the risk! I Will!
Telepon genggam tiba-tiba berbunyi sekitar 20.30 WITA, ternyata telepon dari sang Ibu dari kangmas. Dalam hati bertanya, ada apa yaa kok sampe ditelpon. Tanpa ragu saya angkat. Singkat cerita saya setengah kaget, setengah bingung, setengah ga percaya, sang Ibu menyatakan keseriusan anak laki-lakinya untuk mengajak saya menikah dan menanyakan kesediaan saya. Mak jedher! antara senang tapi bingung saya mau jawab apa. Ibu juga menanyakan tentang kondisi saya yang masih terikat pernyataan untuk tidak menikah selama setahun sejak saya mulai bekerja, apakah itu tidak menjadi masalah? Ibu hanya tidak ingin merepotkan saya.
Saat itu juga, pikiran saya langsung bekerja, entah saya lebih berat menggunakan logika atau perasaan saya. Tapi langsung saya katakan saat itu juga bahwa buat saya pribadi saya tak ingin pekerjaan menjadi halangan, rejeki sudah ada yang ngatur, kalau niatnya ibadah insya Allah ke depannya juga baik. Tapi saya juga katakan kalau saya juga perlu bertanya pada Bapak-Ibuk saya. Setelah percakapan itu, saya masih beku ga percaya. Kangmas ga cerita apa-apa sebelumnya, jadi ini agak mengagetkan saya. Hahahah.
Setelah bertanya ke Bapak-Ibuk sempat terdengar nada yang berat. Bukan tak setuju dengan kangmas tetapi Ibuk saya memikirkan pekerjaan saya, melihat saya berjuang memperoleh kerjaan lalu baru sebentar saya ingin menikah. Saya yakinkan ke Ibuk saya bahwa saya tak keberatan, rejeki sudah ada yang ngatur.
Meskipun rencana pernikahan itu sempat mental dan mentah lagi tetapi akhirnya Ibuk saya luluh, Alhamdulillah dengan ijin Allah tentunya. Kata Ibuk, saya sudah cukup usia untuk menikah, sudah menyelesaikan studi sarjana saya, jadi sudah tugas orang tua untuk menikahkan kalau memang anak sudah meminta.
Alhamdulillahnya..Ibuk saya adalah yang paling bersemangat mengurus segala persiapan. Saya senang karena bisa dibantu Ibuk, maklum posisi saya di Bali agak menyulitkan saya untuk mengurus semuanya sendiri. Saking semangatnya, idenya suka gonta-ganti, errrrrr.
Setiap keputusan pasti ada resikonya, dan insya Allah..saya siap menghadapi resikonya. I'll take the risk! I Will!
Menikah atau "Nanti saja"
Bismillahirrahmanirrahim,
Bonsoir!
Memutuskan menikah bukanlah suatu yang mudah. Saya seringkali mendengar dari beberapa teman yang belum maupun sudah menikah berkata,
Saya setuju kok dengan menyegerakan menikah. Tetapi memang ada permintaan orang tua agar saya menyelesaikan kuliah dulu baru memikirkan menikah. Maka selulus kuliah dan sudah bekerja, kegalauan itu luar biasa hebatnya. Saya berpikir, apa lagi yang harus ditunggu? saya dan kangmas sudah sama-sama lulus dan bekerja, lalu apalagi? Pikiran itu mengganggu saya sampai akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya pada kangmas, "Sebenernya apa lagi yang kita tunggu? Kapan kita menikah?" Kangmas menanggapinya dengan bercanda, mungkin agak aneh baginya karena saya tiba-tiba bertanya. Tetapi ketika ia tahu saya serius, ia menjawabnya. Dan jawaban itu meskipun agak membuat saya sedih saat itu tetapi membuat saya meyakinkan diri untuk bersabar. Saya bertanya maka saya dapat jawabannya, cukup kan?
Setelah itu, paling tidak saya lebih lega karena akhirnya bertanya-dijawab-dan tahu bahwa mungkin menikah bukanlah hal yang cukup dekat saat itu. Apakah kegalauan itu hilang setelah bertanya? Tentu tidak. Hahaha. Kegalauan itu tentu terus berlanjut hanya saja dalam tingkat yang lebih rendah dan mampu saya kendalikan. Saya alihkan itu ke dalam doa-doa saya.
Di lain sisi, tentu saja Kangmas bukan tidak mungkin memikirkan hal yang sama. Hanya saja dia lebih banyak diam tak bercerita. Tentu memutuskan untuk menikah jauh lebih sulit baginya karena dialah yang akan menjadi pemimpin. Tentu tidak mudah karena ada banyak hal yang ia pikirkan baik keluarganya maupun keluarga yang ia bangun sendiri nanti, tentang tanggung jawabnya sebagai anak pertama, anak laki-laki, sebagai suami dan ayah kelak. Tentu saja itu saja itu tak semudah menentukan akan makan malam pake lauk apa. Kadang sesekali ia bercerita tentang keraguannya, apakah mampu menghidupi istri dan anaknya nanti dan saya hanya bisa menjawab, tak perlu khawatir, tak perlu jauh melihat tetapi lihatlah orang tua kita yang mungkin pendapatannya biasa saja nyatanya mampu menyekolahkan dan menghidupi kita dengan layak.
Saya pernah melihat, penjual gorengan yang berjualan ditemani anak dan istrinya. Saya tahu penghasilannya tak seberapa, tetapi mereka tampak begitu akur dan bercanda. Saya juga pernah lihat, tukang gali pasir di dekat kampung saya, yang rumahnya hanya sepetak kotor dan kumuh, yang kadang sang suami tidur di bawah mobil pick-up tetapi ia tampak begitu menikmati hidup dengan anak-anak dan istrinya serta anjing-anjing yang ia pelihara.
Jadi kebahagiaan itu sederhana saja bukan? Dan menurut saya, menikah adalah salah satu cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Masih berpikir nanti untuk menikah?
Bonsoir!
Memutuskan menikah bukanlah suatu yang mudah. Saya seringkali mendengar dari beberapa teman yang belum maupun sudah menikah berkata,
"Menikah itu tidak seindah yang dibayangkan"
"Dibanding senengnya, lebih banyak menderitanya!"
"Udah deh, gak usah nikah! Hahahaha"
"Iya nih, ga enak, ga sebebas dulu.."
"Aku sih udah enjoy sendiri, jadi soal nikah nanti ajalah"Masih banyak lagi yang pernah saya dengar. Kadang itu menjadikan kegugupan tersendiri, tetapi ternyata bagi saya dorongan untuk segera menikah itu lebih besar dibanding untuk menundanya. Kalau kata seorang teman, "Syetan itu akan menggunakan berbagai cara agar kamu tidak menikah." Cemen dong kalau sampai kalah sama bisikan setan. Na'udzubillahi mindzalik.
Saya setuju kok dengan menyegerakan menikah. Tetapi memang ada permintaan orang tua agar saya menyelesaikan kuliah dulu baru memikirkan menikah. Maka selulus kuliah dan sudah bekerja, kegalauan itu luar biasa hebatnya. Saya berpikir, apa lagi yang harus ditunggu? saya dan kangmas sudah sama-sama lulus dan bekerja, lalu apalagi? Pikiran itu mengganggu saya sampai akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya pada kangmas, "Sebenernya apa lagi yang kita tunggu? Kapan kita menikah?" Kangmas menanggapinya dengan bercanda, mungkin agak aneh baginya karena saya tiba-tiba bertanya. Tetapi ketika ia tahu saya serius, ia menjawabnya. Dan jawaban itu meskipun agak membuat saya sedih saat itu tetapi membuat saya meyakinkan diri untuk bersabar. Saya bertanya maka saya dapat jawabannya, cukup kan?
Setelah itu, paling tidak saya lebih lega karena akhirnya bertanya-dijawab-dan tahu bahwa mungkin menikah bukanlah hal yang cukup dekat saat itu. Apakah kegalauan itu hilang setelah bertanya? Tentu tidak. Hahaha. Kegalauan itu tentu terus berlanjut hanya saja dalam tingkat yang lebih rendah dan mampu saya kendalikan. Saya alihkan itu ke dalam doa-doa saya.
Di lain sisi, tentu saja Kangmas bukan tidak mungkin memikirkan hal yang sama. Hanya saja dia lebih banyak diam tak bercerita. Tentu memutuskan untuk menikah jauh lebih sulit baginya karena dialah yang akan menjadi pemimpin. Tentu tidak mudah karena ada banyak hal yang ia pikirkan baik keluarganya maupun keluarga yang ia bangun sendiri nanti, tentang tanggung jawabnya sebagai anak pertama, anak laki-laki, sebagai suami dan ayah kelak. Tentu saja itu saja itu tak semudah menentukan akan makan malam pake lauk apa. Kadang sesekali ia bercerita tentang keraguannya, apakah mampu menghidupi istri dan anaknya nanti dan saya hanya bisa menjawab, tak perlu khawatir, tak perlu jauh melihat tetapi lihatlah orang tua kita yang mungkin pendapatannya biasa saja nyatanya mampu menyekolahkan dan menghidupi kita dengan layak.
Saya pernah melihat, penjual gorengan yang berjualan ditemani anak dan istrinya. Saya tahu penghasilannya tak seberapa, tetapi mereka tampak begitu akur dan bercanda. Saya juga pernah lihat, tukang gali pasir di dekat kampung saya, yang rumahnya hanya sepetak kotor dan kumuh, yang kadang sang suami tidur di bawah mobil pick-up tetapi ia tampak begitu menikmati hidup dengan anak-anak dan istrinya serta anjing-anjing yang ia pelihara.
Jadi kebahagiaan itu sederhana saja bukan? Dan menurut saya, menikah adalah salah satu cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Masih berpikir nanti untuk menikah?
Setelah PMS apakah lalu PWS?
Bismillahirrahmanirrahim,
Selamat siang semua!
Sebagai seorang perempuan tentu saya mengalami perasaan-perasaan aneh ketika membayangkan akan menikah. Bahkan perasaan itu sudah ada jauh sebelum saya dan kangmas memutuskan untuk menikah. Yaitu saat saya datang ke acara keluarganya kangmas dan waktu itu disambut oleh Bapaknya yang sangat di luar dugaan saya, saya sampai speechless. Berkali-kali saya ceritakan ini tapi memang begitulah perasaan saya waktu itu. Bukan tidak senang tetapi hanya tersadar, umur saya memang sudah pantas kalau suatu hari nanti menikah. Tapi yang membuat saya galau saat itu juga adalah..bagaimana ketika menjadi anak dari Bapak Ibuk mertua saya nanti, dan tidak lagi menjadi tanggungjawab Bapak Ibuk saya melainkan berpindah ke suami saya. Apakah saya siap..?
Tentu perasaan itu wajar. Katanya hal itu biasa disebut dengan Prewedding Syndrome (PWS). Wah apalagi nih? Perempuan sudah cukup aneh dan merepotkan ketika PMS ini masih ada aja PWS.
PWS tentu tak hanya dialami oleh perempuan tetapi bisa juga terjadi pada laki-laki karena tanggung jawab mereka akan semakin besar nantinya setelah berkeluarga. Kalau bagi saya sebenernya PWS ini yaa setipe-tipe perasaan yang mampir ketika saya akan menghadapi hal baru seperti sekolah baru, pekerjaan baru, suasana baru, yaaah..semacam nervous gitu lah. Kadang jika nervous itu tak muncul secara alami maka akan sengaja saya buat. Aneh ya? Tapi menurut saya itu adalah treatment ampuh bagi psikologis saya agar saya selalu prepare for the worst. Jadi ketika pada kenyataannya saya mengalami hal yang lebih baik dari ekspektasi saya, maka saya akan merasa senang tetapi ketika yang terjadi adalah kebalikannya, saya tidak akan terlalu kaget atau bersedih.
Nah soal menyoal persiapan pernikahan ini, yang sedang sering menghinggapi perasaan saya lebih pada pikiran-pikiran bagaimana setelah menikah nanti. Saya sadar semua tak akan sama seperti sebelum menikah. Saya tak lagi sendiri, saya tak lagi seenak hati mau ke mana dan ngapain karena saya akan jadi istri yang membawa kehormatan suami saya. Selain itu, nanti ketika saya sudah menjadi istri, definisi "Pulang" bukanlah lagi ke orang tua tetapi ke suami. Rumah yang sedari kecil hingga dewasa melindungi saya dari rasa sedih dan membuat saya merasa tentram. Kadang saya merasa agak sedih karenanya. Saya akan berpindah rumah, maka saya bertekad untuk menjadikan rumah kami nanti "rumah" yang nyaman untuk anak-anak kami selalu "Pulang" sama halnya dengani rumah orang tua kami.
Insya Allah, saya tak ragu pada kangmas sebagai calon suami saya. Soal rezeki sudah ada Allah yang atur, bahkan saya pernah membaca ini:
Kami memang sama-sama tak sempurna, mungkin jauh dari sempurna, tetapi kami ingin bersama-sama menjalankan ibadah ini. Saling memilih untuk saling mengingatkan.
Selamat siang semua!
Sebagai seorang perempuan tentu saya mengalami perasaan-perasaan aneh ketika membayangkan akan menikah. Bahkan perasaan itu sudah ada jauh sebelum saya dan kangmas memutuskan untuk menikah. Yaitu saat saya datang ke acara keluarganya kangmas dan waktu itu disambut oleh Bapaknya yang sangat di luar dugaan saya, saya sampai speechless. Berkali-kali saya ceritakan ini tapi memang begitulah perasaan saya waktu itu. Bukan tidak senang tetapi hanya tersadar, umur saya memang sudah pantas kalau suatu hari nanti menikah. Tapi yang membuat saya galau saat itu juga adalah..bagaimana ketika menjadi anak dari Bapak Ibuk mertua saya nanti, dan tidak lagi menjadi tanggungjawab Bapak Ibuk saya melainkan berpindah ke suami saya. Apakah saya siap..?
Tentu perasaan itu wajar. Katanya hal itu biasa disebut dengan Prewedding Syndrome (PWS). Wah apalagi nih? Perempuan sudah cukup aneh dan merepotkan ketika PMS ini masih ada aja PWS.
PWS tentu tak hanya dialami oleh perempuan tetapi bisa juga terjadi pada laki-laki karena tanggung jawab mereka akan semakin besar nantinya setelah berkeluarga. Kalau bagi saya sebenernya PWS ini yaa setipe-tipe perasaan yang mampir ketika saya akan menghadapi hal baru seperti sekolah baru, pekerjaan baru, suasana baru, yaaah..semacam nervous gitu lah. Kadang jika nervous itu tak muncul secara alami maka akan sengaja saya buat. Aneh ya? Tapi menurut saya itu adalah treatment ampuh bagi psikologis saya agar saya selalu prepare for the worst. Jadi ketika pada kenyataannya saya mengalami hal yang lebih baik dari ekspektasi saya, maka saya akan merasa senang tetapi ketika yang terjadi adalah kebalikannya, saya tidak akan terlalu kaget atau bersedih.
Nah soal menyoal persiapan pernikahan ini, yang sedang sering menghinggapi perasaan saya lebih pada pikiran-pikiran bagaimana setelah menikah nanti. Saya sadar semua tak akan sama seperti sebelum menikah. Saya tak lagi sendiri, saya tak lagi seenak hati mau ke mana dan ngapain karena saya akan jadi istri yang membawa kehormatan suami saya. Selain itu, nanti ketika saya sudah menjadi istri, definisi "Pulang" bukanlah lagi ke orang tua tetapi ke suami. Rumah yang sedari kecil hingga dewasa melindungi saya dari rasa sedih dan membuat saya merasa tentram. Kadang saya merasa agak sedih karenanya. Saya akan berpindah rumah, maka saya bertekad untuk menjadikan rumah kami nanti "rumah" yang nyaman untuk anak-anak kami selalu "Pulang" sama halnya dengani rumah orang tua kami.
Insya Allah, saya tak ragu pada kangmas sebagai calon suami saya. Soal rezeki sudah ada Allah yang atur, bahkan saya pernah membaca ini:
Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡”. (HR. Hakim dan Abu Dawud)
“Carilah rezeki dengan menikah”. (HR. Ad-Dailami)Jadi insya Allah kami percaya bahwa kalau niatnya baik, Allah pasti akan membantu.
Kami memang sama-sama tak sempurna, mungkin jauh dari sempurna, tetapi kami ingin bersama-sama menjalankan ibadah ini. Saling memilih untuk saling mengingatkan.
Kamis, 26 Juni 2014
Memilih Gedung untuk Walimah
Bismillahirrahmanirrahim,
Selamat pagi semua!
Setelah pos sebelumnya sudah memperkenalkan diri siapa yang mau nikah. Posting kali ini saya mau cerita tentang pilih-pilih gedung. Jadi, awal cerita karena saya dan kangmas sama-sama anak pertama, di mana orang tua kami sama-sama belum punya pengalaman, jadilah kami jujur saja bingung mau mulai dari mana yang harus dikerjakan. Nah hasil tanya-tanya teman, Alhamdulillah dapat gambara secara umum langkah awal apa yang harus dimulai terlebih dahulu. Kira-kira hal di bawah inilah yang perlu diperhatikan.
Tetapkan Tanggal Pernikahan
Bagi saya dan keluarga, semua hari adalah baik jadi Bismillah saja untuk menentukannya dan banyak berdoa. Bagi saya pribadi, selama ini pertimbangan-pertimbangan yang digunakan adalah estimasi jarak yang normal dari kapan lamaran dan akadnya, hubungannya dengan pekerjaan entah orangtua, saya atau kangmas, kemudian yaaa yang dikira-kira pas lah.hehehe. Setiap keluarga pasti punya pertimbangan yang berbeda-beda. Nah kaitannya penetapan tanggal ini sangat penting untuk mencari gedung (kalau misalnya acara walimah atau resepsi tidak dilakukan di rumah). Dengan mengantongi tanggal fix ini kita jadi bisa booking gedung.
Mencari Gedung
Di Jogja, atau mungkin di mana saja, booking gedung sudah dilakukan jauh-jauh hari. Takutnya kalau nggak gitu tanggal yang diinginkan ternyata sudah ada yang booking, kan sedih jadinya. Maka kalau bisa lakukan booking gedung sesegera mungkin. Kalau tanggal sudah oke, dan gedung juga sudah oke kan selanjutnya kita tenang kalau mau bikin undangan. Ya gak? hehehe. Untuk saya pribadi dan keluarga sih, gedung yang dipakai harus memenuhi kriteria yang standar sih sebenarnya tapi cukup representatif seperti parkir luas, area gedung yang lega, dan tentu saja murah! biar nggak overbudget toh saya dan keluarga cuma ingin yang sederhana saja. Akhirnya, karena Bapak saya bekerja di UMY pilihannya jatuh ke gedung Aula Ahmad Dahlan di kompleks kampus UMY di Ringroad Selatan. Kalau mau infonya bisa lihat di sini. Tapi untuk lebih jelasnya sih bisa datang langsung ke kantornya yang berada di dalam gedung Sportorium UMY.
Membuat Undangan
Saya dan kangmas sebenernya sudah laamaaaaa banget ngomongin gimana ya nanti undangan pernikahan kami. Kami pengen yang lucu, ga pengen yang terlalu umum, ga pengen yang ada fotonya, daaan masih banyak lagi kriteria. Padahal waktu itu mau nikah aja belom. hiihihi. Nah tapi secara umum selera kami nih sama jadi nggak terlalu sulit untuk menyesuaikannya. Kangmas sering ngasih link-link tentang contoh undangan pernikahan yang unik, saya sendiri juga sering browsing, atau lihat-lihat di page facebook tentang contoh undangan. Sampai akhirnya saya menemukan undangan yang unik dan setelah minta acc, kangmas juga menyetujuinya. Syukur deh..jadi tanggal, gedung sama calon undangan udah dapet jadi insya Allah nanti waktu pulang jogja bisa langsung survey sama kangmas. Ihik.
Sementara ini, tahap awal itu cukup membantu sih. Jadi siapa tahu ini juga bisa jadi tips untuk temen-temen yang sedang mempersiapkan pernikahan juga tapi bingung mau mulai dari mana.
Au Revoir! Sampai Jumpa!
Selamat pagi semua!
Setelah pos sebelumnya sudah memperkenalkan diri siapa yang mau nikah. Posting kali ini saya mau cerita tentang pilih-pilih gedung. Jadi, awal cerita karena saya dan kangmas sama-sama anak pertama, di mana orang tua kami sama-sama belum punya pengalaman, jadilah kami jujur saja bingung mau mulai dari mana yang harus dikerjakan. Nah hasil tanya-tanya teman, Alhamdulillah dapat gambara secara umum langkah awal apa yang harus dimulai terlebih dahulu. Kira-kira hal di bawah inilah yang perlu diperhatikan.
- Tetapkan Tanggal Pernikahan
- Mencari Gedung
- Membuat Undangan
Tetapkan Tanggal Pernikahan
Bagi saya dan keluarga, semua hari adalah baik jadi Bismillah saja untuk menentukannya dan banyak berdoa. Bagi saya pribadi, selama ini pertimbangan-pertimbangan yang digunakan adalah estimasi jarak yang normal dari kapan lamaran dan akadnya, hubungannya dengan pekerjaan entah orangtua, saya atau kangmas, kemudian yaaa yang dikira-kira pas lah.hehehe. Setiap keluarga pasti punya pertimbangan yang berbeda-beda. Nah kaitannya penetapan tanggal ini sangat penting untuk mencari gedung (kalau misalnya acara walimah atau resepsi tidak dilakukan di rumah). Dengan mengantongi tanggal fix ini kita jadi bisa booking gedung.
Mencari Gedung
Di Jogja, atau mungkin di mana saja, booking gedung sudah dilakukan jauh-jauh hari. Takutnya kalau nggak gitu tanggal yang diinginkan ternyata sudah ada yang booking, kan sedih jadinya. Maka kalau bisa lakukan booking gedung sesegera mungkin. Kalau tanggal sudah oke, dan gedung juga sudah oke kan selanjutnya kita tenang kalau mau bikin undangan. Ya gak? hehehe. Untuk saya pribadi dan keluarga sih, gedung yang dipakai harus memenuhi kriteria yang standar sih sebenarnya tapi cukup representatif seperti parkir luas, area gedung yang lega, dan tentu saja murah! biar nggak overbudget toh saya dan keluarga cuma ingin yang sederhana saja. Akhirnya, karena Bapak saya bekerja di UMY pilihannya jatuh ke gedung Aula Ahmad Dahlan di kompleks kampus UMY di Ringroad Selatan. Kalau mau infonya bisa lihat di sini. Tapi untuk lebih jelasnya sih bisa datang langsung ke kantornya yang berada di dalam gedung Sportorium UMY.
Membuat Undangan
Saya dan kangmas sebenernya sudah laamaaaaa banget ngomongin gimana ya nanti undangan pernikahan kami. Kami pengen yang lucu, ga pengen yang terlalu umum, ga pengen yang ada fotonya, daaan masih banyak lagi kriteria. Padahal waktu itu mau nikah aja belom. hiihihi. Nah tapi secara umum selera kami nih sama jadi nggak terlalu sulit untuk menyesuaikannya. Kangmas sering ngasih link-link tentang contoh undangan pernikahan yang unik, saya sendiri juga sering browsing, atau lihat-lihat di page facebook tentang contoh undangan. Sampai akhirnya saya menemukan undangan yang unik dan setelah minta acc, kangmas juga menyetujuinya. Syukur deh..jadi tanggal, gedung sama calon undangan udah dapet jadi insya Allah nanti waktu pulang jogja bisa langsung survey sama kangmas. Ihik.
Sementara ini, tahap awal itu cukup membantu sih. Jadi siapa tahu ini juga bisa jadi tips untuk temen-temen yang sedang mempersiapkan pernikahan juga tapi bingung mau mulai dari mana.
Au Revoir! Sampai Jumpa!
Sabtu, 21 Juni 2014
Who We Are?
Selamat pagi para pembaca yang budiman,
Di post sebelumnya saya sudah bilang kalau blog ini sengaja dibuat untuk merekam segala keriweuhan si penganten wannabe ini. Kenapa alamat blognya agak bikin lidah keseleo ya, ya abis gimana lagi nyari judul yang simpel udah kepake semua, akhirnya saya pilih kata sederhana dengan bahasa yang pernah saya pelajari dulu, bahasa Perancis alias Francais. Nah untuk post kali ini saya ingin menjelaskan kepada pembaca tentang siapa sih yang mau nikah? Baiklah saya jawab. (padahal ada yang nanya aja enggak, hehe)
Saya nggak akan nyebut nama sih, tapi hanya menjelaskan sedikit gambaran tentang saya dan kangmas. Jadi cerita singkatnya sih, saya dan kangmas calon ini adalah teman satu angkatan SMP di salah satu SMP negeri di Jogja. Klise banget yah bahasanya. hahaha. Tapi ya begitulah kami, teman SMP yang kemudian menjadi teman SMA, kuliahnya pun di universitas yang sama meskipun beda fakultas. Maklum saja karena kami sudah beda aliran sejak SMA. Nah karena kami beda fakultas, akhirnya kami malah jadi teman satu tim KKN juga. Begitulah kami selalu bersama-sama, sampe wisuda pun di hari yang sama.
Selulus kuliah akhirnya kami pisah karena kangmas kerja di Jakarta dan saya bekerja di Bali. Iya kalau bahasa masa kininya tuh kami disebut LDR. Tapi LDR ini bukannya bikin kita tambah renggang tapi justru makin serius sehingga kami memutuskan untuk menikah. Alhamdulillah, akhirnya doa-doa saya dijawab Allah di waktu yang sama sekali tidak saya duga meskipun udah ngarep dari lama. Kangmas akhirnya memutuskan untuk mengkhitbah saya sewaktu kami sama-sama pulang ke Jogja. Dari peristiwa itulah yang selanjutnya bikin si penulis ini pengen bikin blog baru buat lipsus persiapan pernikahan dan serba-serbi perasaan yang dirasakan penulis.
Nah cukup jelas kan ya gambaran tentang calon mantennya, gak usah detail-detail ndak nanti ketebak duluan. (koyo terkenal wae mbak)
Hahaha
Sampai jumpa di post berikutnya!
Di post sebelumnya saya sudah bilang kalau blog ini sengaja dibuat untuk merekam segala keriweuhan si penganten wannabe ini. Kenapa alamat blognya agak bikin lidah keseleo ya, ya abis gimana lagi nyari judul yang simpel udah kepake semua, akhirnya saya pilih kata sederhana dengan bahasa yang pernah saya pelajari dulu, bahasa Perancis alias Francais. Nah untuk post kali ini saya ingin menjelaskan kepada pembaca tentang siapa sih yang mau nikah? Baiklah saya jawab. (padahal ada yang nanya aja enggak, hehe)
Saya nggak akan nyebut nama sih, tapi hanya menjelaskan sedikit gambaran tentang saya dan kangmas. Jadi cerita singkatnya sih, saya dan kangmas calon ini adalah teman satu angkatan SMP di salah satu SMP negeri di Jogja. Klise banget yah bahasanya. hahaha. Tapi ya begitulah kami, teman SMP yang kemudian menjadi teman SMA, kuliahnya pun di universitas yang sama meskipun beda fakultas. Maklum saja karena kami sudah beda aliran sejak SMA. Nah karena kami beda fakultas, akhirnya kami malah jadi teman satu tim KKN juga. Begitulah kami selalu bersama-sama, sampe wisuda pun di hari yang sama.
Selulus kuliah akhirnya kami pisah karena kangmas kerja di Jakarta dan saya bekerja di Bali. Iya kalau bahasa masa kininya tuh kami disebut LDR. Tapi LDR ini bukannya bikin kita tambah renggang tapi justru makin serius sehingga kami memutuskan untuk menikah. Alhamdulillah, akhirnya doa-doa saya dijawab Allah di waktu yang sama sekali tidak saya duga meskipun udah ngarep dari lama. Kangmas akhirnya memutuskan untuk mengkhitbah saya sewaktu kami sama-sama pulang ke Jogja. Dari peristiwa itulah yang selanjutnya bikin si penulis ini pengen bikin blog baru buat lipsus persiapan pernikahan dan serba-serbi perasaan yang dirasakan penulis.
Nah cukup jelas kan ya gambaran tentang calon mantennya, gak usah detail-detail ndak nanti ketebak duluan. (koyo terkenal wae mbak)
Hahaha
Sampai jumpa di post berikutnya!
Bonjour a Tous!
Halo semua!
Sesuai dengan judul header ini, saya kepingin menyapa semua yang membaca blog baru ini. Sebenarnya saya iseng-iseng aja sih pengen bikin blog baru. Isinya ingin mengkhususkan tentang persiapan dan serba-serbi menikah. Hal ini terdorong karena selama saya browsing soal persiapan pernikahan ada blog-blog yang memang dibuat khusus untuk merekam semua persiapan. Nah jadi sebenarnya saya ini entah antara ikut-ikutan atau enggak, tapi saya rasa soal persiapan ini memang harus punya blog sendiri. Tadinya mau pos di blog wordpress, tapi apa daya udah lupa password saking lamanya dianggurin. Hehehe.
Blog ini dibuat tanpa sepengetahuan kangmas calon. Jadi biar ini jadi rahasia kita yah..hihi, tapi saya bakal kasih tahu kangmas kok nanti..iya..nanti. Biar ada isinya buat dibaca gitu.
Yaudah bismillahirrahmanirrahim semoga blog ini bisa lumayan keisi (amin!) berhubung si penulis ini sukanya tepar duluan kalo udah pulang dari kantor. Dan semoga blog ini berkah juga yah pemirsah. Di blog ini saya mau bebas aja ah nulisnya, gak terpatok pemilihan kata yang rumit macem blog pribadi si penulis. hehe.
Selamat membacaaa :D
Langganan:
Komentar (Atom)
Pengalaman Sunat atau Khitan Anak
Bismillahirrahmanirrahim, Kalau mau diberi judul rekomendasi sunat anak rasanya kurang pas juga karena saya baru pertama kali khitan anak ...
-
Sebenarnya pengalaman hamil dan melahirkan pertama kali sudah sekitar dua tahun lalu. Tapi nggak ada salahnya kan berbagi pengalaman dan in...
-
Bismillahirrahmanirrahim, Sampai juga ke part 3 untuk review dari semua persiapan dan hasil akhirnya. Kali ini saya akan bahas soal vendor...
-
Bismillahirrahmanirrahim, Di tengah hiruk pikuk dan ke-hampirngambek-an saya ngurusin persiapan pernikahan ini saya semacam dapet nasehat ...



