Jumat, 04 Mei 2018

Pengalaman Sunat atau Khitan Anak

Bismillahirrahmanirrahim,

Kalau mau diberi judul rekomendasi sunat anak rasanya kurang pas juga karena saya baru pertama kali khitan anak jadi nggak punya pembanding tempat khitan lain. Tapi secara umum saya merasa puas dengan pelayanan Rumah Sunatan.

Jadi dari awal saya dan Bapaknya memang ingin Saka khitan ketika masih kecil saja, nggak perlu nunggu SD, mengingat ini sunnah dan perlu disegerakan, tapi waktu itu belum ada pembicaraan yang khusus dan serius. Oya, usia Saka saat ini 2 tahun 5 bulan. Sampai akhirnya saat malam kami ngobrol-ngobrol santai berdua seperti biasa, rencana untuk khitan Saka kami seriusi. Esok harinya saat Saka bangun pagi saya mulai sounding tentang khitan dan nanya-nanya ke temen tentang pengalaman khitan anak. Lalu keesokannya karena hari libur 1 Mei, kami pagi-pagi sudah siap untuk konsultasi tentang metode dan harga ke Rumah Sunatan dan ternyata bisa dijadwalkan hari itu juga. Karena kami memang sudah serius dan niat, akhirnya Saka khitan hari itu. Persiapannya? Bapak ibunya siap mental dan anaknya juga sudah berkali-kali saya afirmasi.

Mengapa Rumah Sunatan?

Hasil browsing Bapaknya Saka mengarah ke sana. Kalau rumah sakit hari libur tanggal merah pasti libur juga. Soal ini memang saya serahkan ke Bapaknya, yang pernah ngalamin. Kalau saya lebih menyiapkan bagaimana Saka pasca khitan nanti, karena pasti agak rewel, dan juga perawatannya. 
Waktu kami datang ke Rumah Sunatan, belum ada pasien yang datang, baru ada satu frontliner yang menjelaskan tentang dua metode yang mereka tawarkan untuk khitan anak.
Frontline Rumah Sunatan

Ruang Tunggu



Mengapa Metode Klamp?

Ada dua metode yang mereka tawarkan. Jujur saja kami masih awam sekali. Metode pertama adalah Metode Klamp. Pada metode ini kulup akan dibuka lalu penis akan dipasang tabung untuk beberapa hari. Kelebihannya, minim perdarahan, tidak dijahit, pasca khitan boleh terkena air dan pengerjaannya cepat sekitar 10-15 menit. Sedangkan metode kedua adalah Metode Laser di mana perdarahan akan lebih banyak karena akan ada jahitan, tidak boleh terkena air selama beberapa hari dan waktu pengerjaan bisa sampai 30 menit. Entah frontliner memang lebih mengarahkan ke Metode Klamp atau nggak, tapi dengar kata dijahit dan tidak boleh kena air terbayangkan gimana kesakitan dan rewelnya Saka nanti, maka kami pilih metode klamp. Kata mbaknya sih kebanyakan anak-anak pakai itu karena waktu pengerjaannya cepat.

Saat mulai diletakkan di meja operasi, Saka baru saja bangun tidur. Jadi dalam keadaan setengah ngumpul, dia sudah dipersiapkan untuk dibius lokal. Duh saya liat dia dibius aja ngilu banget. Setelah itu proses khitan dimulai. Saya yang tadinya duduk menjauh mulai mendekat ketika Saka memanggil ibuk. Selama proses itu juga saya coba tontonkan video hewan walaupun tidak terlalu mengalihkan, kadang saya peluk saat Saka minta peluk. Setelah selesai khitan Saka bisa jalan sendiri, tapi di tengah perjalanan mungkin biusnya mulai hilang, dia mengeluh kesakitan.

Harga dan Fasilitas?

Untuk kedua metode klamp dan laser harga yang ditawarkan sama.

Dan ini adalah fasilitas yang kami pilih



 


Lokasi?

Kami saat ini sedang tinggal di Depok. Di Depok sendiri ada 3 cabang, yakni di Jl. Margonda, Jl. Raya Sawangan dan Jl. Kelapa Dua Raya. Waktu itu kami pilih di Margonda karena lokasinya paling dekat dengan rumah. Pusatnya ada di Bekasi dan tersebar di Jabodetabek dan kota-kota besar Indonesia. Lebih lengkapnya bisa lihat situsnya di www.rumahsunatan.com.

Nah segitu dulu ya bagi ceritanya, untuk perawatan pasca khitan dan lepas tabung next post ya.

Kok Anakku Belum Bisa Jalan Ya?

Meskipun terkadang kita mengiyakan bahwa anak punya waktunya sendiri-sendiri untuk bisa ini dan itu, tapi tetep saja kepikiran ya kalau anak kita belum bisa sedangkan kawan seumurannya sudah lancar. Begitu juga yang terjadi sama saya waktu Saka belum juga bisa jalan padahal usianya sudah 15 bulan lebih. Sudah mencoba stimulasi, trik, atau pancingan apa saja tetapi buat berdiri nggak dipegangin aja anak ini belum percaya diri, padahal saya yakin anak ini sudah bisa. Saran orang tentang hal-hal seperti mengusapkan embun pagi ke kaki sampai 'menyabetkan' sajadah yang dipakai ayahnya jumatan pun pernah saya dengar.

Akhirnya saya konsultasikan juga ke DSA ketika kontrol rutin. Oleh DSA diberi rujukan untuk ke Dokter Rehab Medik agar diketahui langkah apa yang tepat. Singkat cerita saya ke dokter tersebut. Setelah berbincang tentang usia dan riwayat kesehatan Saka yang memang pernah mengalami kejang tanpa demam, screening singkat berupa pertanyaan tentang tumbuh kembang Saka, Saka dianjurkan untuk 'bermain' di fisioterapi dan terapi okupasi. Saya iyakan walaupun sempat ragu juga perlu nggak sih Saka melakukan ini. Tapi nggak ada salahnya juga untuk dicoba. Mungkin dengan begitu saya jadi lebih tahu stimulasi apa yang tepat dan bisa saya lakukan ketika di rumah.

Saat mendaftar di fisioterapi dan terapi okupasi saya masih ada di waiting list. Jadi nanti akan dihubungi via telepon mengenai jadwal dan kapan akan dimulai. Saka dapat rujukan dari dokter untuk melakukan fisioterapi dan terapi okupasi masing-masing sebanyak empat kali. Sampai akhirnya saya dihubungi dan diberitahu kapan Saka bisa memulai terapinya.

Ketika memulai terapi, Saka agak tertarik karena ruangannya yang banyak 'mainan' tetapi mungkin karena di dalam agak 'dipaksa' untuk melakukan macam-macam saya mulai mendengar tangisannya dari luar. Di RS Grha Permata Ibu saya nggak mendampingi dan nggak bisa melihat langsung apa yang dilakukan terapis kepada Saka. Hanya saja selesai sesi saya diberitahu apa yang harus saya lakukan di rumah untuk membantu Saka menguatkan otot-ototnya berupa gerakan-gerakan jongkok, berdiri dan sebagainya.

Oya, mengapa memilih RS Grha Permata Ibu Depok, alasannya semata karena dekat dengan rumah sehingga memudahkan saya dan Saka ke sana karena kami hanya berdua. Lagipula ini bukan kegiatan berobat yang serius jadi tidak terlalu memilih rumah sakit.

Saya dan Saka melewati masa-masa itu sampai jadwal terapinya habis dengan terus berharap 'momen' Saka untuk berani melangkah sendiri segera terjadi. Sampai terapi selesai, Saka masih maunya pegangan tangan kalau jalan. Saya rasa hanya masalah percaya diri, sedangkan kemampuan berjalannya saya yakin dia bisa. Jadi saya bersabar menunggu momen itu datang dengan terus memberikan semangat ke Saka. Sampai suatu malam saat kami bermain bersama seperti biasanya, Saka berani berjalan sendiri. Hari itu adalah hari yang membuat saya dan bapaknya kaget, haru tapi juga senang. Akhirnya anak ini berani jalan sendiri juga setelah sekian waktu di usianya yang ke-18 bulan. Di saat itu saya membenarkan bahwa SABAR dan PERCAYA adalah kata kuncinya. Karena ya meskipun berkali-kali saya mengalami hal serupa tapi mungkin karena masih ibu baru, anak pertama jadi sesantai bagaimana tetap kepikiran apalagi kalau soal tumbuh kembang anak.

Jadi ya begitulah pengalaman saya soal belajar berjalannya Saka. Semoga cukup menenangkan ya untuk ibu-ibu yang sedang menunggu momen berjalannya si kecil. Trust your child! Tentunya selama tidak ada indikasi kesehatan lain yang serius.

Rabu, 02 Mei 2018

Review RSKIA Rachmi

Sebenarnya pengalaman hamil dan melahirkan pertama kali sudah sekitar dua tahun lalu. Tapi nggak ada salahnya kan berbagi pengalaman dan informasi.

Pilih RS dan Obsgyn
 
Saya itu tipe yang nggak mau terlalu ribet sehingga cukup memudahkan saya dalam memilih dokter obsgyn dan tempat melahirkan. Untuk dokter Obsgyn saya punya kriteria wajib yakni dokternya perempuan, selain itu ya saya cocok dan nyaman aja. Saya soalnya tiap kontrol kehamilan nggak terlalu banyak pertanyaan. Nah untuk memilih dokter obsgyn ini saya pilih kliniknya dulu, saya pilih Rachmi karena dekat dengan rumah, sesimpel itu alasannya. Di Rachmi ada dua dokter obsgyn perempuan dan ternyata saya lebih cocok dengan dr. Arsi Palupi. Dokternya pembawaannya santai dan akrab, jadi berasa sama temen sendiri, cukup informatif juga meski ngga terlalu panjang lebar. Karena saya nyaman, saya mantep bakal lahiran di Rachmi sama dr. Arsi.
 
Fasilitas 

Tentunya sebelum yakin banget memilih Rachmi sebagai tempat melahirkan nanti, saya juga mempertimbangkan fasilitas yang ada di RSKIA Rachmi. Meskipun terhitung RS kecil saya justru cenderung memilih Rachmi karena bukan rumah sakit umum yang ramai. Fasilitas kamar, tenaga kesehatan dan juga polinya menurut saya sudah cukup lengkap dan mendukung, meskipun tidak ada NICU. Tapi saya juga sudah mempertimbangkan rumah sakit umum terbesar sebagai rujukan NICU jika keadaan darurat terjadi.

Selain itu, dokternya pro normal, pro IMD, pro ASI, prosedurnya baik dan sejauh saya periksa kehamilan di sana, pelayanan perawatnya cukup memuaskan untuk saya. Kalau ada yang kurang di beberapa hal, yang penting bukan hal yang krusial.

Singkat Cerita Saat Melahirkan

Karena usia kandungan saya sudah melewati HPL, dr. Arsi menyarankan untuk segera induksi. Jadi malam saat saya kontrol kehamilan saya langsung dianjurkan untuk segera memesan kamar, jika tersedia maka malam itu juga akan diinduksi. Saya sendiri sih sudah menyiapkan mental jauh-jauh hari jadi saya siap-siap saja toh perlengkapan melahirkan sudah siap di dalam tas tinggal angkut.
Setelah dua kali dimasukkan obat induksi akhirnya pagi setelah subuh, saya sudah bukaan delapan dan segera disiapkan ke ruang bersalin. Setelah sekitar dua atau tiga kali mengejan Alhamdulillah anak saya lahir dan diletakkan di dada saya untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD).  Di saat dr. Arsi menjahit perineum, saya yang sempet teralihkan ke proses jahit menjahit diingatkan untuk ngajak ngobrol si bayi. Saat itu mekonium Saka juga keluar cukup banyak. Beberapa saat setelah jahitan selesai, Saka sudah menemukan puting, ia kemudian diambil untuk dibersihkan, ditimbang, diukur dan dipakaikan baju. Sedangkan saya mulai dipakaikan stagen dan digantikan baju oleh perawat lalu dibawa ke kamar dengan kursi roda. Saya bisa langsung room in dengan bayi saya dan diajarkan beberapa perawatan bayi serta cara menyusui.

Karena saya melahirkan saat hari libur maka kontrol dokter anak baru bisa dilakukan hari Senin. Alhamdulillah nggak ada masalah. Saya diberi kit perlengkapan mandi dan tas perlengkapan bayi, juga sudah diberikan jadwal kontrol baik untuk saya maupun bayi.

Nah begitulah informasi yang saya bisa bagi dari pengalaman saya selama periksa kehamilan dan melahirkan di RSKIA Rachmi. Semoga cukup membantu ya untuk pilah pilih tempat melahirkan di daerah Jogja Selatan.

Pengalaman Sunat atau Khitan Anak

Bismillahirrahmanirrahim, Kalau mau diberi judul rekomendasi sunat anak rasanya kurang pas juga karena saya baru pertama kali khitan anak ...