Meskipun terkadang kita mengiyakan bahwa anak punya waktunya sendiri-sendiri untuk bisa ini dan itu, tapi tetep saja kepikiran ya kalau anak kita belum bisa sedangkan kawan seumurannya sudah lancar. Begitu juga yang terjadi sama saya waktu Saka belum juga bisa jalan padahal usianya sudah 15 bulan lebih. Sudah mencoba stimulasi, trik, atau pancingan apa saja tetapi buat berdiri nggak dipegangin aja anak ini belum percaya diri, padahal saya yakin anak ini sudah bisa. Saran orang tentang hal-hal seperti mengusapkan embun pagi ke kaki sampai 'menyabetkan' sajadah yang dipakai ayahnya jumatan pun pernah saya dengar.
Akhirnya saya konsultasikan juga ke DSA ketika kontrol rutin. Oleh DSA diberi rujukan untuk ke Dokter Rehab Medik agar diketahui langkah apa yang tepat. Singkat cerita saya ke dokter tersebut. Setelah berbincang tentang usia dan riwayat kesehatan Saka yang memang pernah mengalami kejang tanpa demam, screening singkat berupa pertanyaan tentang tumbuh kembang Saka, Saka dianjurkan untuk 'bermain' di fisioterapi dan terapi okupasi. Saya iyakan walaupun sempat ragu juga perlu nggak sih Saka melakukan ini. Tapi nggak ada salahnya juga untuk dicoba. Mungkin dengan begitu saya jadi lebih tahu stimulasi apa yang tepat dan bisa saya lakukan ketika di rumah.
Saat mendaftar di fisioterapi dan terapi okupasi saya masih ada di waiting list. Jadi nanti akan dihubungi via telepon mengenai jadwal dan kapan akan dimulai. Saka dapat rujukan dari dokter untuk melakukan fisioterapi dan terapi okupasi masing-masing sebanyak empat kali. Sampai akhirnya saya dihubungi dan diberitahu kapan Saka bisa memulai terapinya.
Ketika memulai terapi, Saka agak tertarik karena ruangannya yang banyak 'mainan' tetapi mungkin karena di dalam agak 'dipaksa' untuk melakukan macam-macam saya mulai mendengar tangisannya dari luar. Di RS Grha Permata Ibu saya nggak mendampingi dan nggak bisa melihat langsung apa yang dilakukan terapis kepada Saka. Hanya saja selesai sesi saya diberitahu apa yang harus saya lakukan di rumah untuk membantu Saka menguatkan otot-ototnya berupa gerakan-gerakan jongkok, berdiri dan sebagainya.
Oya, mengapa memilih RS Grha Permata Ibu Depok, alasannya semata karena dekat dengan rumah sehingga memudahkan saya dan Saka ke sana karena kami hanya berdua. Lagipula ini bukan kegiatan berobat yang serius jadi tidak terlalu memilih rumah sakit.
Saya dan Saka melewati masa-masa itu sampai jadwal terapinya habis dengan terus berharap 'momen' Saka untuk berani melangkah sendiri segera terjadi. Sampai terapi selesai, Saka masih maunya pegangan tangan kalau jalan. Saya rasa hanya masalah percaya diri, sedangkan kemampuan berjalannya saya yakin dia bisa. Jadi saya bersabar menunggu momen itu datang dengan terus memberikan semangat ke Saka. Sampai suatu malam saat kami bermain bersama seperti biasanya, Saka berani berjalan sendiri. Hari itu adalah hari yang membuat saya dan bapaknya kaget, haru tapi juga senang. Akhirnya anak ini berani jalan sendiri juga setelah sekian waktu di usianya yang ke-18 bulan. Di saat itu saya membenarkan bahwa SABAR dan PERCAYA adalah kata kuncinya. Karena ya meskipun berkali-kali saya mengalami hal serupa tapi mungkin karena masih ibu baru, anak pertama jadi sesantai bagaimana tetap kepikiran apalagi kalau soal tumbuh kembang anak.
Jadi ya begitulah pengalaman saya soal belajar berjalannya Saka. Semoga cukup menenangkan ya untuk ibu-ibu yang sedang menunggu momen berjalannya si kecil. Trust your child! Tentunya selama tidak ada indikasi kesehatan lain yang serius.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pengalaman Sunat atau Khitan Anak
Bismillahirrahmanirrahim, Kalau mau diberi judul rekomendasi sunat anak rasanya kurang pas juga karena saya baru pertama kali khitan anak ...
-
Sebenarnya pengalaman hamil dan melahirkan pertama kali sudah sekitar dua tahun lalu. Tapi nggak ada salahnya kan berbagi pengalaman dan in...
-
Bismillahirrahmanirrahim, Sampai juga ke part 3 untuk review dari semua persiapan dan hasil akhirnya. Kali ini saya akan bahas soal vendor...
-
Menemukan tulisan di notepad tahun 2009, tentang dia. kadang masih sulit dimengerti.. masih juga serin bertanya-tanya mengapa sampai sekar...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar