Jumat, 04 Juli 2014

Galau-ness

Bismillahirrahmanirrahim,

Dulu ketika saya masih kecil, seorang mas remaja mesjid mengutarakan keresahannya kepada mbak saya. Dia resah bahwa mungkin saja ramadhan kali itu adalah ramadhan terakhirnya sebagai single. Bukannya tidak senang, dia hanya resah bahwa mungkin saja nanti ketika ia sudah berkeluarga, ia tak bisa lagi sering-sering bergabung dengan kegiatan remaja masjid seperti sebelumnya. Mungkin saja ia akan disibukkan dengan urusan keluarga kecilnya. Waktu itu saya cuma mendengarkan karena masih terlalu kecil. Dan benar saja, saya tak pernah melihat mas itu di ramadhan-ramadhan setelahnya sejak ia menikah.

Saya rasa keresahan semacam itu telah datang pada saya.

Saya sering melamun. Saya memikirkan keluarga saya. Sebentar lagi saya akan menikah, adik saya semakin besar, orang tua saya semakin tua. Apakah saya masih bisa melakukan banyak hal bersama mereka seperti sebelumnya saat saya sudah berkeluarga nanti. Apakah kami masih bisa sarapan bersama? Apakah saya masih bisa menemani adik saya membeli sepatu atau mencoba makanan baru bersama? Di belahan bumi manakah saya dan keluarga kecil saya tinggal nanti? Apakah saya akan ada saat mereka sedang sakit flu? Apakah adik saya selepas SMA nanti tetap di rumah atau meninggalkan Bapak Ibuk untuk kuliah? Saya hanya takut dan sedih membayangkan Bapak dan Ibuk hanya berdua di rumah.

Allah, hamba-Mu memang tak mungkin meminta waktu kembali. Tapi hamba bersyukur bahwa pada hari ini hamba merindukan masa-masa itu. Paling tidak, hamba bisa melakukan banyak hal yang menyenangkan bersama mereka dan bukan penyesalan karena tak melakukan apa-apa dulu. Allah, selalu jaga mereka di saat hamba jauh, saat hamba tak bisa setiap hari memandang wajah mereka. Sehatkan jasamani mereka, bahagiakan dan tentramkan rohani mereka, mudahkan segala urusan mereka. Kumpulkanlah kami dalam keadaan yang baik. Engkaulah yang mengatur segala sesuatunya Ya Allah..maka berikanlah yang terbaik bagi mereka.

Kamis, 03 Juli 2014

Silaturahmi Balasan

Bismillahirrahmanirrahim,

Untuk menunjukkan bahwa saya dan keluarga menyambut baik niat keluarga Kangmas, keluarga saya, khususnya Ibuk mengajak untuk silaturahmi balasan ke rumah kangmas. Silaturahmi itu dilakukan saat saya pulang ke Jogja, dua bulan setelah kedatangan keluarga Kangmas ke rumah.

Berhubung Ibuk saya sebenarnya tidak begitu tahu urutan proses menjelang pernikahan, maka bertanyalah Ibuk saya ke Budhe yang lebih pengalaman. Konon kata Budhe saya, kalau adat di Jawa Tengah, setelah pihak laki-laki datang ke rumah untuk melamar, maka selanjutnya pihak perempuan datang ke rumah pihak laki-laki untuk membalas, tetapi kalau di Jogja adat tersebut tidak ada. Namun, wacana mengenai silaturahmi balasan ini memang sudah tercetus oleh Ibuk saya sebelum nanya-nanya, mungkin sudah naluri Ibuk saya yang senang menjalin silaturahmi, makanya keraguan Ibuk mengenai apakah perlu untuk datang ke rumah Kangmas akhirnya saya jawab dengan tidak ada salahnya untuk berkunjung dan bersilaturahmi agar saling mengenal dan saling tahu rumah masing-masing keluarga.

Jadi selepas maghrib keluarga saya lengkap datang berkunjung ke rumah Kangmas. Saat itu Kangmas tidak ada di rumah karena memang sedang tidak pulang. Maklum saya pulangnya di hari kerja karena di Bali sedang libur Galungan. Pada kunjungan tersebut kami membicarakan tentang kapan rencana kami untuk mengadakan pernikahan, dan teknisnya meski belum terlalu detail tetapi cukup memberikan gambaran untuk keluarga Kangmas. Saat dimintai pendapat dan persetujuannya, keluarga Kangmas pada intinya mendukung dan mengikuti saja. Selain itu acaranya ya ngobrol-ngobrol dan makan-makan, hehe. Alhamdulillah semuanya lancar sampai dengan tahap ini, paling tidak, tidak ada yang keberatan atau bagaimana. Sampai suatu ketika, seminggu kemudian Kangmas dengan mak jedher memberikan alternatif tanggal yang berbeda, padahal sebelumnya udah di kunjungan saya di keluarga Kangmas kami sudah mengutarakan tentang tanggal. Eaaaa!

Pengalaman Sunat atau Khitan Anak

Bismillahirrahmanirrahim, Kalau mau diberi judul rekomendasi sunat anak rasanya kurang pas juga karena saya baru pertama kali khitan anak ...